Jelang Protes Bersih 5, Mahathir Kembali Tuntut PM Najib Mundur

Fajar Nugraha    •    Kamis, 17 Nov 2016 18:57 WIB
protes bersih
Jelang Protes Bersih 5, Mahathir Kembali Tuntut PM Najib Mundur
Mahathir Mohammad kembali desak PM Najib Razak mundur (Foto: The Star).

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad kembali mendesak agar PM Najib Razak mundur dari jabatannya. Desakan dikeluarkan jelang protes Bersih 5.
 
Mahathir yang berkuasa di Malaysia pada 1981 hingga 2003, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergabung dalam unjuk rasa massal. Aksi ini dijadwalkan pada Sabtu 19 November mendatang.
 
"Saya harap rakyat Malaysia akan memberikan dukungan penuh dan turut serta dalam protes Bersih ini," ujar Mahathir, seperti dikutip CNN, Kamis (17/11/2016).
 
Meskipun PM Najib adalah salah satu 'murid' dari Mahathir, dirinya menuduh pemerintahan Najib bertanggungjawab menciptakan hutang miliaran ringgit yang tidak bisa dibayar oleh Negeri Jiran. 
 
Menggunakan kaus berwarna kuning, Bersih 5 Mahathir menunjukkan dukungannya untuk gerakan itu. Dia juga mengungkapkan apa inti dari gerakan Bersih kali ini.
 
"Karena (Bersih) mencoba untuk mencari jalan menyelamatkan negeri kita, dengan mendesak perubahan di pemerintah. Agar Malaysia tidak lagi dipimpin oleh seseorang yang dituduh oleh seluruh dunia, di balik hilangnya uang negara," tegas Mahathir.
 
Ketidakpuasan yang meluas ditunjukkan oleh rakyat Malaysia, membuat banyak rakyat setempat bergabung dalam koalisi Bersih. Terutama setelah tuduhan bahwa Najib menerima aliran dana dari lembaga 1 Malaysia Development Berhad (1MDB).
 
Keterlibatan Mahathir di Bersih dipertanyakan
 
Menurut pengamat dari The Penang Institute, Wong Chin Huat, demonstrasi ini tidak akan memberikan pengaruh banyak. Tetapi menurut Wong, aksi tersebut bisa menjadi bagian penting membentuk kolisis sosial anti-Najib.
 
Wong menambahkan, protes Sabtu 19 November kemungkinan tidak akan sebesar protes Bersih sebelumnya. Tetapi aksi ini kemungkinan akan lebih beragam.
 
"Bersih akan memegang peranan sebagai dasar bagi rakyat yang menuntut perubahan," sebut Wong.
 
Sementara keterlibatan Mahathir dalam pihak oposisi membuahkan pertanyaan dari masyarakat. Hal ini merunut dari peralihan pandangan mengenai protes.
 
Saat masih menjadi perdana menteri, Mahathir menghantam gerakan "Reformasi" yang dituntut oleh mantan Deputi Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Anwar sendiri akhirnya dipenjara atas tuduhan tindakan kejahatan seksual.
 
"Saya kira (Mahathir) tidak benar-benar mengubah diri, tetapi dia sangat pragmatis," sebut Wong.
 
"Apa yang dilihat saat ini adalah perubahan keadaan. Bahwa banyak orang yang awalnya menolak ide perlawanan, kini sudah mulai menerima," pungkasnya.
 
PM Najib menanggapi aksi unjuk rasa
 
PM Najib Razak sendiri bersuara mengenai aksi ini. Najib meminta rakyat Malaysia untuk menyuarkan kegelisahannya melalui pemilihan umum pada 2018.
 
"Waktu yang sangat tepat untuk menentukan pilihan adalah saat pemilu. Akan pemilu dan rakyat bisa menggunakan pilihannya dan kami akan mengikuti keinginan rakyat. Itu sangat penting," tegas Najib.
 
Selain itu, Najib juga menginginkan kelompok pro dan anti-pemerintah untuk menghindari konfrontasi. 
 
"Jika satu sisi menginginkan protes dan pihak lain ingin demontrasi melawan pemerintah, saya tidak ingin terjadi adanya kerusuhan fisik," ujar Najib.
 
Najib menambahkan, segala macam bentuk kekerasan tidak akan memberikan manfaat. "Kekerasan bukanlah budaya Malaysia yang bukan jalan hidup rakyat kita," tegas PM Najib.



(FJR)