Presiden Korsel Dianggap Konspirator Skandal Korupsi

Nur Azizah    •    Senin, 21 Nov 2016 01:06 WIB
korupsi
Presiden Korsel Dianggap Konspirator Skandal Korupsi
Presiden Korsel Park Geun-hye. (AFP)

Metrotvnews.com, Seoul: Presiden Korea Selatan Park Geun-hye cukup berperan dalam skandal korupsi yang melibatkan orang kepercayaannya, Choi Soon-Sil.

Kepala Kejaksaan Lee-Young-Ryeol mengatakan, Park Geun terlibat sebagai konspirator. Namun, pengacara Park langsung membantah ucapan Lee. Menurutnya, Lee telah mengada-ada seakan membangun rumah fantasi. 

Presiden Park memang memiliki kekebalan dari penuntutan, tapi dia tidak bisa menghalangi warga Korsel untuk berunjuk rasa. Mereka meminta Park mundur dari jabatannya. 

Lee menyampaikan, akan segera bertanya pada Park. Namun, pengacara Park, Yoo Young-ha melarang Lee bertemu dengan kliennya. Lee hanya boleh bertemu dengan tim independen yang akan segera mengambil alih penyelidikan.

Sementara itu, Juru bicara Park Geun, Jung Youn-kuk mengatakan, tuduhan jaksa adalah serangan politik yang tidak adil. Menurut dia, kejaksaan telah membangun spekulasi dan mengabaikan bukti objektif.

Park akan menjadi presiden pertama yang duduk di ruang sidang dan ditanyai oleh jaksa atas kasus skandal korupsi.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (15/11/2016), selain kasus korupsi, Park dituduh membiarkan salah satu rekannya, Choi Soon-sil mengakses dokumen pemerintah tanpa izin.

Choi sendiri sudah ditahan pekan lalu atas tuduhan memeras uang dalam jumlah besar, dari sejumlah perusahaan di Korsel dengan mengatasnamakan persahabatannya dengan Park.

Park harus menjelaskan pada jaksa apa yang sebenarnya terjadi dan harus bertanggung jawab jika terbukti bersalah, termasuk para orang di sekelilingnya yang ikut terlibat.

Atas kasus itu, warga Korsel marah. Mereka mengatakan, Park merupakan presiden terakhir yang terseret dalam skandal yang melibatkan keluarga ataupun kerabat. Park dinilai telah mengkhianati publik dan tidak mampu mengelola pemerintahan.

Permintaan maaf Park sepertinya tak mampu meredam kemarahan rakyat Korsel. Hingga hari ini, gelombang demonstrasi masih terjadi di Korsel, walaupun tak sebesar beberapa hari lalu.

Di tengah ricuhnya kasus korupsi Park, pemimpin partai oposisi utama mengusulkan adanya pembicaraan dengan Park, namun akhirnya dibatalkan karena ada penolakan dari anggota parlemen.

Disinyalir, partai oposisi mendesak pemerintah membentuk kabinet baru, termasuk pemilihan presiden baru untuk Korsel.



(SCI)