Wawancara Dirjen Kerja Sama ASEAN Kemenlu RI

Ketahanan ASEAN Hadapi Gejolak di Masa Depan

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 10 Oct 2018 16:13 WIB
aseanindonesia-asean
Ketahanan ASEAN Hadapi Gejolak di Masa Depan
Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Jose Tavares. (Foto: Fajar Nugraha/Medcom.id).

Jakarta: Indonesia terus menggaungkan sentralitas ASEAN di mata dunia. Organisasi antarnegara di kawasan Asia Tenggara ini juga rupanya sedang naik daun.
 
Tercatat, kawasan Asia Tenggara meraih posisi enam besar dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia. Bahkan, keberhasilan pembangunan ASEAN menyebabkan Produk Domestik Bruto kawasan ini mencapai USD2,5 triliun.
 
Pertumbuhan ekonomi ASEAN mencapai 4,8 persen. Hal ini berarti di atas rata-rata pertumbuhan dunia.
 
Meski demikian, tak lantas ASEAN bebas dari tantangan, baik di regional maupun internasional. Berikut wawancara khusus Medcom.id pada Senin 8 Oktober 2018, dengan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Jose Tavares mengenai ASEAN di mata Indonesia dan tantangan yang harus dihadapi. 
 
Seberapa penting ASEAN untuk Indonesia?

Penting sekali. Kenapa? Karena negara-negara Asia Tenggara adalah lingkungan terdekat Indonesia. Pengaruh baik atau buruk pasti dampaknya sangat besar untuk Indonesia. Contohnya saja, waktu financial crisis tahun 1997, itu kan mulainya saja dari Thailand dulu, baru ke Malaysia dan Indonesia. Jadi dampaknya akan sangat terasa sekali karena lingkungan terdekat.
 
Kemudian kejahatan lintas batas. Jadi mau tidak mau kita harus perhatikan lingkungan terdekat kita. Apakah itu dari kejahatan lintas batas narkoba, terorisme, perdagangan manusia dan lain sebagainya. Kalau di negara tetangga kita terbakar, maka pengaruhnya di kita juga. Kita juga bisa ikut terbakar. Misal contohnya begini, pengaruh adanya pengungsi di salah satu negara Asia Tenggara, itu dampaknya jelas pada kita, seperti manusia perahu dulu, Vietnam, Rohingya.
 
Jadi bagi Indonesia sangat penting dan itu juga sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945, yang mengatakan bahwa kita harus turut melaksanakan ketertiban dunia. Ini sangat langsung berpengaruh ke kita, melaksanakan ketertiban dunia, karena menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan agar pembangunan di Indonesia dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Jadi jawabannya adalah sangat penting sekali.
 
Selama 51 tahun berdiri, bagaimana perkembangan ASEAN di mata Indonesia?

Memang perkembangannya dari tahun 1967 hingga sekarang mencapai 51 tahun, memang sudah maju. Dari awalnya kan kita memang tidak menyangka ada ASEAN Community, tapi perkembangannya itu kemudian saat ini kita sudah menjadi satu komunitas di Asia Tenggara. Awalnya berdasarkan satu deklarasi tanpa suatu charter. Tadinya sangat loose, sekarang ada rule ways organization. Kerja sama ekonomi pun demikian, sekarang hamper bebas tarif perdagangan di negara-negara ASEAN. Nah ini sangat menguntungkan konsumen karena banyak produk yang bisa dijual oleh Indonesia ke negara anggota ASEAN lainnya atau sebaliknya. Dan konsumen dapat memilih harga-harga di pasaran dengan kualitas bagus dan harga bersaing.
 
ASEAN ini kan sebagai regional organization itu adalah standard setting, menyusun norma-norma yang menjadi norma payung di kawasan, dan itu sudah banyak sekali. Kita bisa mengatakan South East Asia clear weapon zone, treaty of amity and cooperation, Bali Concord, jadi sangat banyak, termasuk perjanjian-perjanjian di bidang ekonomi, penanggulangan bencana alam dan juga kerja sama dengan mitra.
 
Tantangan terbesar selama 51 tahun ini apa?

Tantangan yang saya lihat, kita harapkan bisa maju pesat ya keanekaragaman Asia Tenggara itu sendiri. SIstem politik yang berbeda di tiap negara, ada yang demokrasi, ada yang monarki, ada juga yang masih dalam transformasi dan ini bisa jadi tantangan juga. Jadi aada tantangan dari system politik dan social budaya juga gaya dari agama, dan etnik. Di satu pihak ini bisa merupakan satu kekayaan, tapi di lain pihak ini bisa jadi satu tantangan.

Dan saya lihat, karena keanekaragaman ini begitu luas, bisa jadi paling divers di dunia, maka kemajuannya pun disesuaikan dengan keanekaragamannya. Jadi kalau Indonesia bisa maju dengan cepat di satu bidang, negara-negara lainnya belum tentu siap dalam bidang tersebut. Katakanlah dalam bida hak asasi manusia, ada negara yang kita katakanlah belum bisa, dan boleh dikatakan beranekaragam.
 
Kemudian tantangan terbesar berikutnya adalah dinamika hubungan antara negara-negara besar, kekuatan-kekuatan besar. Negara-negara besar ini melihat kawasan ini seperti kawasan yang menjadi perebutan pengaruh mereka, spear of influencer mereka. Nah ini juga merupakan seuatu tantangan bagi ASEAN, karena jika negara-negara anggota tidak hati-hati, bisa ditarik di bawah pengaruh negara-negara besar itu. Oleh karena itu, anggota ASEAN harus sadar dan harus bersatu agar tidak menjadi proxy pengaru negara-negara besar tersebut. Nah ini bisa jadi kategori tantangan besar yang dihadapi.
 
Sementara tantanga internal lainnya juga banyak, seperti misalnya tadi faktor keanekaragaman, ada juga sengketa territorial yang belum diselesaikan di antara negara anggota ASEAN bisa jadi masalah. Kemudian sengketa territorial yang lebih luas seperti Laut China Selatan itu juga masuk dalam tantangan. Tantangan juga bisa berupa ancaman dari transnational crime. Ini semua bisa menjadi tantangan. Jadi tantangan ada yang bersifat internal, ada yang eksternal.

 Setelah berdiri selama 51 tahun, beberapa tahun terakhir Asia Tenggara menjadi kawasan dengan ekonomi keenam terbesar di dunia. Bagaimana Indonesia mendorong negara-negara anggota ASEAN lebih maju lagi?
 
Sebenarnya memang kerja sama regional biasanya tidak bisa dengan cepat maju. Artinya karena masing-masing negara membawa kembali pertimbangan di kepentingan masing-masing. Karena itu, biasanya kawasan regional bergerak perlahan karena ya tadi kepentingan beranekaragam. Apa yang akan Indonesia lakukan adalah apa yang kita yakini apa yang baik untuk kawasan, seperti apa yang kita pelihara untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan. Itu yang terus kita dorong di kawasan. Kerja sama ekonomi yang lebih luas misalnya regional economy partnership, kita terus dorong itu.
 
Nah sekarang sudah beberapa tahun kita mendorong dari regional economy partnership itu, meski pun belum berhasil, tapi akan terus dilakukan secara gradual sampai itu tercapai. Sebagai contoh misalnya, kita upayakan suatu aturan di kawasan untuk melindungi hak-hak pekerja migran. Itu berlangsungnya sangat lama, dari 2007 dikeluarkan deklarasi mengenai protection and promotion of migrant workers di Manila, tapi baru kemudian 2017 ASEAN menghasilkan ASEAN Consensus of the Protection and Promotion Migrant Workers yang ditandatangani para kepala negara di Manila juga. Jadi membutuhkan waktu 10 tahun. Karena ASEAN bergerak berdasarkan consensus sehingga memang harus memerhatikan pandangan dan posisi dari negara masing-masing. Apa yang diyakini Indonesia, akan terus kita dorong dalam setiap kesempatan yang ada.

Untuk mengatasi gap ekonomi di antara negara-negara ASEAN, sikap Indonesia seperti apa?
 
Indonesia terus mendukung inisiatif untuk integrasi ASEAN, inisiatif ini memang adalah untuk address, mengupayakan agar gap ekonomi antara masing-masing negara terbantu dari berbagai bantuan baik dari ASEAN sendiri, maupun dari negara-negara mitra. Membantu lewat berbagai pelatihan, pembelajaran dan best practices dari negara ASEAN sendiri atau negara mitra. Dan terbukti dari negara-negara ASEAN sekarang, yang sebelumnya tertinggal dari sisi ekonomi, sekarang majunya pesat sekali.  Yang paling cepat majunya adalah Vietnam. Dan juga kalau kita lihat Laos, atau Kamboja, kalau kita lihat sekarang disbanding 10 tahun lalu sangat berbeda. Pesat sekali pertumbuhan ekonominya.
 
Jadi kita mendorongnya lewat program-program demikian. Dan di ASEAN sendiri, karena kerja samanya sangat luas, maka ada bantuan-bantuan melalui trust fund, pelatihan-pelatihan yang terus dilakukan. Tanpa terasa karena ini adalah pengayaan terhadap pengetahuan, keterampilan dan merancang ekonominya. Yang bisa diserap negara-negara anggota ASEAN bagi membangun kepentingan negara masing-masing.
 
Jelang ASEAN Summit, ada ASEAN Leaders Gathering di Bali pada 11 Oktober mendatang. Persiapan Indonesia sudah sejauh mana? Apa yang akan disampaikan dalam forum tersebut?

Sebenarnya ASEAN Leaders Gathering ini dilakukan mendahului pertemuan IMF World Bank di Bali. Sebenarnya ditangani panitia nasional yang diketuai Menteri Koordinasi Maritim Luhut Pandjaitan. Dan kami tentu saja salah satu pelaksananya. ASEAN Leaders Gathering akan dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober ini dan akan dihadiri semua kepala negara/pemerintahan ASEAN, akan dihadiri juga oleh Sekretaris Jenderal PBB dan para petinggi dari World Bank dan International Monetary Fund (IMF) dan Sekjen ASEAN tentunya.

Nah di situ, pertemuan akan diketuai bersama Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. Di mana bapak Presiden akan memimpin di sesi pertama, di mana akan mempersilakan Sekjen PBB, Sekjen ASEAN menyampaikan pandangannya terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di kawasan. Sekjen PBB akan menyampaikan dari segi pandangannya. Kemudian kesempatan kepada para kepala negara ASEAN mengenai perkembangan pencapaian SDGs di negaranya masing-masing, dan aka nada diskusi interaktif di akhir pertemuan mengenai tantangan yang dihadapi masing-masing negara dan bagaimana penyelesaiannya. Tantangannya bisa berupa resources atau expertise, di mana PBB bisa membantu ASEAN, atau malah ASEAN bantu membagikan best practices-nya. Tetapi tidak terbatas pada SDGs karena suasana saat ini di dunia juga kita tahu bahwa diselimuti perang dagang dan situasi global yang tidak menentu.

Bagaimana dengan Persiapan KTT ASEAN?

Kalau dengan ASEAN Summit kita terus mempersiapkan, dan akan dilaksanakan pada pertengahan November dan terdiri dari KTT ASEAN sendiri dan dengan ASEAN mitra, seperti Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Korea dan juga dengan negara lain seperti India, Australia dan juga dengan Asia Timur juga, serta ASEAN Plus 3. Jadi memang sederetan, serangkaian KTT yang cukup panjang. Tentu saja didahului pertemuan tingkat menteri dan sebelumnya oleh pejabat tinggi.

Apa saja yang akan dibahas Indonesia dalam KTT ASEAN?
 
Yang akan dibawa Indonesia tentu saja akan tergantung kepada Bapak Presiden, tapi kami perkirakan ada isu Indo-Pasifik yang akan diangkat. Tentu saja isu Laut China Selatan juga. Nantinya dalam pertemuan ASEAN dengan Tiongkok, Indonesia juga akan bisa mengangkat isu seperti Laut China Selatan. Karena banyak forum, berbagai isu bisa diangkat, seperti isu perdamaian di Semenanjung Korea, Rakhine State, itu isu-isu besar yang bisa diangkat Presiden. Termasuk juga isu kejahatan lintas batas, terorisme, dan hal-hal demikian akan tetap menjadi perhatian Indonesia.
 
Mengenai Rakhine State, PBB telah meminta negara-negara ASEAN untuk mendesak Myanmar menyelesaikan masalah. Tanggapan ASEAN sendiri bagaimana?

Sebenarnya ASEAN sudah beberapa kali bertemu, baik di New York maupun kemarin Juli, ada di joint communique itu meminta Pemerintah Myanmar agar dapat melaksanakan rekomendasi-rekomendasi dari adviser commission on Rakhine State. Jadi di situ antara lain ada repatriasi secara baik, bermartabat, masyarakat yang mengungsi harus dihormati, menciptakan suatu lingkungan yang kondusif untuk mereka kembali, memperbaiki root causesnya itu. Dan itu yang didesakkan ASEAN kepada Myanmar sebagai anggota.
 
Dan selain itu, ada bantuan dari ASEAN Humanitarian Assistance Centre (AHA Centre). Sebenarnya AHA Centre itu bukan untuk man made disaster, karena kalau kasus Rakhine ini kan dibuat manusia sendiri, tapi para menteri luar negeri yang didorong Menlu RI Retno Marsudi, akhirnya AHA Centre ini bisa memberikan bantuan ke Rakhine State. Mereka turunkan ada tim di situ dan memberikan bantuan kepada pemerintah setempat.

Namun untuk proses repatriasi sendiri masih tersendat. Bagaimana ASEAN menyikapinya?

ASEAN sebenarnya terus mendesak Myanmar agar repatriasi pengungsi Rakhine State dari Bangladesh yang totalnya hampir sejuta orang itu, sangat besar. Harus dikembalikan ke tempat asalnya. Namun, sampai sekarang ini tidak terlaksana. Ini yang disayangkan, kami harap Pemerintah Myanmar bisa segera melakukannya. Dan ASEAN siap membantu, terutama Indonesia, siap bantu. Namun, tentu saja itu pada Myanmar sendiri untuk lakukan. Dan kita lihat juga ada laporan fact finding mission yang dilakukan, artinya memiliki pandangan sangat tajam atas apa yang terjadi di Myanmar.

Apakah ASEAN terganggu dengan adanya masalah Rakhine ini?

Tentu. Sangat.

Malaysia sepertinya sangat keras terhadap Myanmar atas soal ini. Apakah ini bisa mengganggu antar Negara ASEAN?

Indonesia juga sangat keras terhadap masalah Myanmar. Ibu Menteri Luar Negeri sendiri sangat keras. Bapak Presiden juga sangat keras. Indonesia memang sepertinya di luar tidak kedengaran, namun di dalam forum itu, Bapak Presiden dan Bu Menlu sangat keras.
 
Mereka menjawab sudah melakukan sebagian dari rekomendasi dan ini juga berniat untuk bisa mengembalikan para pengungsi ke tempat asalnya. Ada komitmen yang disampaikan. Namun, kita tentunya ingin melihat pelaksanaannya, dan sampai saat ini memang belum sepenuhnya dilakukan.  Dan mereka secara terbuka mengatakan welcome. Hanya memang ada trauma dari para pengungsi untuk bisa kembali ke tempat asal mereka secara sukarela. Lingkungan kondusif yang harus diciptakan. Dan setelah itu, bagaimana mereka bekerja, mereka kan harus mencari penghasilan lagi, baik itu bercocok tanam dan sebagainya. Ini yang harus diperhatikan juga, diciptakan dan dijaga. Artinya pengembalian pengungsi, itu yang belum terjadi dengan baik. Dan tentunya ada root causes yang belum di-address untuk masa mendatang.
 
Mengenai terorisme, warga kita beberapa kali disandera Abu Sayyaf, apakah ada pembahasan signifikan mengenai hal ini? Pasalnya, trilateral sepertinya belum berpengaruh besar terhadap hal tersebut.

Itu memang ada trilateral membahas coordinating patrol, masing-masing patrol di wilayahnya namun berkoordinasi satu sama lain. Itu yang dilakukan. Dan jika memang itu dilakukan masing-masing Negara, secara efektif, maka akan sangat mencegah apa yang terjadi belakangan ini. Namun, memang kan perairannya sangat luas, kapal-kapal yang berlayar juga banyak, menjaga semua itu tidak mudah. Dan oleh karena itu, yang dapat kita kehendaki, kita minta ke negara-negara tetangga agar menjaga keamanan di perairannya masing-masing dengan baik. Agar warga kita, sebenarnya semua warga yang masuk di perairan itu, terbebas dari terorisme atau penyanderaan. Itu yang saat ini diupayakan.
 
Memang joint patrol, dalam artian joint forces, di mana bisa masuk ke negara mana saja, itu memang sepertinya belum bisa tercapai. Karena aturan nasional masing-masing.

Akan adakah pembahasan di ASEAN mengenai joint forces tersebut?

Belum sampai ke sana, karena masing-masing negara menjaga kedaulatannya. Seperti kita, Indonesia, tidak menghendaki agar lautan kita dimasuki kapal-kapal perang dari negara asing. Itu masalahnya, sama seperti negara lain. Dan itu ada peraturan perundang-undangan nasional masing-masing. Nah ini ada kerja sama di ASEAN yang ada batasnya itu, seperti kedaulatan. Mungkin ke depannya bisa, namun saat ini belum.

Isu lain seperti sampah apakah akan dibahas Indonesia?

Isu lain yang akan dibawa Indonesia di KTT Asia Timur, itu adalah sampah plastik. Sayangnya kita, Indonesia adalah pencemar kedua terbesar di dunia. Jadi kita bermaksud agar bisa ada semacam regional plan of action untuk bisa mengatasi sampah plastic ini. Karena berpengaruh di lautan kita, kesehatan, pariwisata juga, turis-turis tidak mau berenang kalau plastic ada di mana-mana. Bisa dimakan ikan, dan ikannya kita makan, itu tidak baik bagi kesehatan.
 
Rencana Aksinya akan Seperti Apa?

Ya kita kan sudah coba tahun lalu ada konferensi di Bali, dan tahun ini kita tingkatkan menjadi suatu kesepakatan mengenai rencana aksi, seperti pembersihan sampah plastic. Pencegahannya, dan lainnya. Karena ada perlu edukasi yang akan dihadiri berbagai kepentingan. Masyarakat juga harus tahu bahwa kalau buang sampah di kali di sini akan end up di lautan. Dan juga bagaimana mengelolanya, tentu saja melibatkan perusahaan, bagaimana mengelola plastik jadi bahan yang lebih berguna.
 
Pembahasan khusus dengan Jepang mengenai sampah plastik ini?

Termasuk ya, dengan Jepang, Australia, Selandia Baru bahkan kita co host. Jadi negara-negara lain juga setuju, sepakat dengan kita mengenai hal ini. Karena ini bukan saja isu yang kontroversial, tapi juga merupakan kepentingan bersama. Karena plastik yang kita buang di sini bisa saja end up di Eropa sana.

Apa yang diharapkan dari pembahasan ini?

Ya jika semua negara sepakat dengan hal ini, maka akan dibuat kesepakatan bersama, supaya kemudian ada aturan-aturan regional mengenai hal itu, dan bagaiamana anggarannya, untuk ahlinya kita bisa datangkan dari negara dan untuk perusahaan-perusahaan juga bisa membantu atasi, cegah pencemaran di laut.
 
Mengenai konsep Indo-Pasifik, bagaimana perkembangannya?

Ya ini merupakan salah satu isu yang akan Pak Presiden sampaikan. Pada April lalu, sudah disampaikan dan sebelumnya di Bu Menlu juga sudah sampaikan di Singapura pada Februari lalu. Pada tahap ini akan kita follow up lagi apa yang sudah disampaikan Presiden dan Menlu, kita sudah mengumpulkan para pejabat senior negara ASEAN dan semuanya sepakat bahwa ASEAN perlu ada strateginya sendiri mengenai konsep Indo-Pasifik.
 
Indonesia sudah memiliki circulate concept sendiri mengenai Indo-Pasifik, namun konsep Indonesia ini perlu ditransformasikan dengan konsep bersama ASEAN. Saat ini sedang proses dan Indonesia sekarang sedang ditugaskan bersama Sekretariat ASEAN untuk secara kolektif mengumpulkan concept paper dari negara-negara anggota ASEAN. Paper ini kemudian diharapakan dapat disampaikan kepada kepala negara ASEAN dan itu akan menjadi pandangan bersama. Kita berharap dapat diselesaikan tahun depan. Bulan Juni kalau tidak salah, pertemuan di Thailand, sebagai ketua ASEAN selanjutnya, para kepala negara ASEAN dapat mengeluarkan satu kesepakatan bersama Indo-Pasifik ASEAN. Jadi para kepala negara akan mengeluarkan outlook ini. Dan akan disampaikan dalam KTT Asia Timur tahun depan.
 
Namun, November ini, tentu akan disampaikan lagi oleh Presiden Jokowi. Memang prosesnya tidak bisa dikehendaki cepat. Karena pandangan berbagai negara, ada yang harus diselesaikan ke sana-sini. Tapi intinya Indo-Pasifik ini harus melihat bahwa suasana dunia saat ini secara global maupun di kawasan penuh dengan ketidakpastian, dan ada persaingan antara kekuatan-kekuatan besar. Munculnya kekuatan besar baru seperti Tiongkok dan juga bisa India, itu menciptakan rivalitas, speare of influence. Dan Indonesia berada di antara dua benua dan dua samudera, sangat strategis akan terdampak oleh tarik menarik kekuatan besar itu. Oleh karena itu kita tidak bisa tinggal diam. Indonesia bersama ASEAN harus keluar dengan our own strategy. Kami full of cooperation, bukan rivalitas, kami mau kawasan ini tetap aman, damai dan stabil untuk masa depan.

Dan kita akan mencari konvergensi dari strategi-strategi. Karena kan sekarang sudah banyak strategi dari AS, Jepang, India juga punya, kemudian Australia juga ada. Makanya kalau ASEAN tidak punya strategi sendiri, maka ASEAN akan menari-nari di bawah negara-negara itu. Maka Indonesia, terus terang saja mengambil alih untuk bisa memiliki satu outlook sendiri bagi ASEAN, tidak berkiblat sana-sini. Salah satu area kerja samanya adalah kerja sama maritime dan ASEAN SDGs. Tentu saja kerja sama mengenai maritim, di dalamnya akan ada pemikiran Indonesia mengenai global maritime.
 
Berarti negara-negara anggota setuju jika ASEAN dijadikan sentralitas konsep Indo-Pasifik?
 
Ya. Negara-negara anggota ASEAN sepakat dan kita saat ini dalam proses penyusunan bersama.
 
Bagaimana dengan perkembangan Laut China Selatan?

Bayangkan Laut China Selatan itu dari 2002 dihasilkannya DOC, baru kemudian pada 2017, setelah 15 tahun kemudian dihasilkan satu single negotiation task, jadi baru sebatas negosiasi CoC itu akan dilaksanakan. Butuh 15 tahun untuk memulai negosiasi. Dan saat ini sudah ada CoC single negotiation task dan pembahasan sejauh ini sudah pada tahap dan akan membahas mengenai batang tubuh dari CoC tersebut. Baru pada objektifnya, tujuannya apa. Saya perkirakan masih akan selesai dalam waktu lama. Kita tidak tahu kapan persisnya, namun saya harap dalam beberapa tahun mendatang. Karena semua tergantung pada kepentingan masing-masing negara apakah mau mempercepat itu atau tidak.
 
Kalau Indonesia, kita maunya secepatnya bahkan kalau bisa satu hingga dua tahun. Tapi kalau tidak ada posisi yang sama, tentu saja negosiasi akan alot.

Memang bagaimana pandangan negara-negara anggota ASEAN terhadap negosiasi ini?
 
Negara-negara anggota ASEAN semuanya hadir, memberikan masukan untuk cepat menyelesaikannya. Semuanya terlihat seperti itu. Namun saja levelnya tidak sama, karena negara anggota ASEAN pun ada yang negara klaim ada juga yang tidak. Yang klaim ada empat, Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei Darussalam. Indonesia, meski bukan negara klaim, namun kita sangat aktif. Singapura juga aktif membantu mempercepat proses penyelesaian negosiasi CoC. Ada yang tentu saja memberikan kontribusi sebisa mereka. Kan ada yang bukan negara maritime juga, seperti Laos dia landlock.

Kalau Tiongkok terhadap negosiasi ini bagaimana?
 
Ya Tiongkok sekarang terbuka untuk negosiasi. Mereka mau, makanya kita sekarang sudah masuk pada pembahasan pembukaan hingga ke batang tubuh negosiasi ini.

Bagaimana dengan RCEP? Sudah sejauh mana perkembangannya?

Regional Cooperation Economy Partnership memang negosiasinya diketuai Indonesia dalam hal ini Kementerian Perdagangan. Kemendag sebagai ketua RCEP dan sekarang terus berjalan. Berbagai kendala memang dihadapi. Diharapkan selesai tahun ini, namun kami kurang tahu. Nampaknya cukup berat untuk menyelesaikan negosiasi ini. Mungkin bagian dari substansi tertentu nampaknya bisa segera diselesaikan.
 
Mengenai AHA Centre, bagaimana kinerjanya terhadap penanggulangan bencana di ASEAN, khususnya bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah?

Kalau AHA Centre dari awal memang sudah mengirimkan timnya ASEAN Emergency Response Assessment Team (ERAT). ERAT masuk di Palu. Jadi mereka izin masuk ke sana hanya dalam beberapa hari setelah gempa. Mereka melihat apa yang dibutuhkan masyarakat, apa yang kurang. Tim itu dating memberikan family tent, family kit, personal hygiene, mobile storage, generator set, blanket, ready to eat food, dan lain sebagainya. Bantuan mereka terus berkembang. Mereka akan terus berada di lokasi hingga selesai. Badan ini disepakati negara-negara ASEAN dan stafnya merupakan warga Asia Tenggara. Jadi mereka tidak ada masalah selama berada di Palu karena sudah berdasarkan persetujuan masing-masing negara anggota. AHA Centre ini mereka sudah biasa menangani bencana di Asia Tenggara. Hampir 20 bencana alam besar yang mereka tangani di Asia Tenggara. Dan kita harapkan ini bisa terus diperkuat karena bantuan mereka luar biasa untuk masyarakat di daerah bencana.
 
Mahathir Mohamad kembali terpilih sebagai Perdana Menteri Malaysia. Sebagai yang dituakan dan mengerti seluk beluk awal ASEAN terbentuk, apakah suaranya akan berpengaruh pada keputusan ASEAN?

Suaranya, sebenarnya terakhir kita aka nada KTT dengan PM Mahathir saat ASEAN Leaders Gathering nanti. Kami akan mengamatinya, namun melihat pandangan beliau, yang memiliki pemahaman dari awal mengenai ASEAN sangat baik. Namun mekanisme pengambilan keputusan tidak akan berubah, tetap seperti itu. Beliau mungkin akan memiliki pandangan kuat terhadap nilai-nilai tertentu, kita lihat nanti. Apa yang akan beliau bawa dalam KTT ASEAN. Namun mekanisme pengambilan keputusan ASEAN tidak berubah dan tetap seperti itu.
 
Kami harap dia bisa melihat kemajuan ASEAN di berbagai bidang, termasuk Laut China Selatan, RCEP atau lainnya. Kita akan melihat pandangan dari seorang pemimpin untuk mendorong kemajuan dari hal-hal yang belum bisa diselesaikan.

Dengan tantangan yang dihadapi dan kemajuan yang dicapai ASEAN, bagaimana negara-negara mitra melihat ASEAN?

Negara mitra ASEAN itu sekarang ada 11, yaitu Australia, Selandia Baru, India, Jepang, Korea, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, Kanada, Amerika Serikat dan PBB. Masih ada juga mitra sektoral, seperti Swiss, Norwegia, Pakistan, Turki dan satu mitra pembangunan, Jerman. Disamping mitra penuh yang bisa memiliki kelompok kerja hingga kepala negara, ada mitra sektoral yang kerja samanya sebatas dengan Sekretariat ASEAN. Di samping itu semua, masih ada 25 negara lagi yang antre mau menjadi mitra ASEAN hingga kami kewalahan karena banyak sekali yang ingin menjadi mitra ASEAN.
 
Karena meski pun banyak pertanyaan mengenai fungsi ASEAN, apakah mendatangkan keuntungan atau tidak di internal, misalnya di Indonesia. Namun di luar, di dunia internasional pandangan terhadap ASEAN sangat tinggi. ASEAN merupakan salah satu organisasi regional yang dipandang sangat berhasil karena mampu menciptakan keadaan aman dan kondusif di tengah berbagai permasalahan dunia. Itu yang sangat berhasil sehingga pembangunan dapat berlanjut sangat baik. Mungkin hal ini yang kurang disadari masyarakat ASEAN sendiri.
 
Namun kalau kita bicara mengenai ASEAN, kita bertemu dengan Gulf Community Council, membahas mengenai ASEAN, mereka sangat menghargai karena suasana seperti kita tidak ada di sana. Kita juga bertemu dengan aliansi Pasifik, negara-negara di Amerika Latin, mereka juga melihat ke Asia Tenggara merupakan kawasan dinamis di mana berkembang di Asia. Mereka ingin agar mempererat hubungan ekonomi dengan ASEAN. Ini yang dipandang negara-negara mitra dan mereka datangnya juga membawa uang.
 
Sekarang, uang yang dibawa negara-negara mitra yang berjumlah 11 ini, tentu saja PBB lebih kepada keahliannya. Namun 10 negara lainnya itu jumlah trust fund di ASEAN saat ini yang terakhir, mencapai USD280 juta. Itu untuk berbagai kegiatan, terserah. Misalnya universitas ingin mengajukan kegiatan yang berhubungan dengan ASEAN, silakan saja ajukan dananya. Mau capacity building, pelatihan, disaster, training UMKM, silakan. Jadi mereka dating selain membawa keahliannya juga membantu ASEAN dari berbagai hal. Pandangan dari negara mitra sangat menghargai dibandingkan masyarakat di ASEAN sendiri.

Menurut Anda, bagaimana ASEAN di mata masyarakat Indonesia?

Kalau saya lihat masyarakat ada kategorinya, kalau secara umum, mereka melihat kegiatan ASEAN, mereka ingat tapi tahun depan lupa. Jadi masyarakat luas tentu saja tahu, tapi lupa. Kita juga bisa bikin kegiatan seperti parade, diskusi, wawancara dengan media, kita juga bisa dating ke sekolah. Bahkan ada pusat studi ASEAN di 56 universitas di Indonesia. Ada 10 lagi antre untuk jadi pusat studi ASEAN. Mereka juga menyebarkan apa itu ASEAN.

Kalau pusat studi ini, mereka tahu dan memberikan kritik atau masukan. Jadi bagus. Ini kategori lain lain, kita sebut think tank, seperti CSIS, Habibie Centre. Mereka ada di dalam kategori mempelajari, tahu lebih dalam. Ada satu kategori lagi yang mau memanfaatkan peluang, yaitu perusahaan-perusahaan. Dari data BKPM, ada sekitar 721 perusahaan Indonesia yang sudah masuk ke ASEAN. Dan mungkin sudah bertambah karena itu data tahun lalu.

Ke depannya kita mengharapkan masyarakat Indonesia tahu mengenai ASEAN dan memanfaatkan peluang yang ada. Karena orang sering bilang pasar kita 236 juta, padahal pasar kita sudah 630 juta, jadi jangan lihat pasar yang kecil karena takut direbut anggota ASEAN. Lihatnya sudah 600 lebih. Manfaaatkan. Sekarang hanya tinggal meningkatkan kompetitifnya, profesionalisme, standar dan mutu. Harus bisa mampu bersaing, ga bisa bangun tembok keliling. Kita sekarang harus bisa berkompetisi. Meski pun banyak tantangan globalisasi, taoi harus mendorong diri sendiri supaya bisa lebih maju juga karena kompetisi lebih positif.

Mungkinkan konektivitas jadi kendala perusahaan membuka peluang di Asia Tenggara?

Konektivitas kita memang buka. Negara-negara anggota lainnya juga membuka jika Garuda Indonesia atau Lion Air mau masuk. Yang kurang bukan keterbukaan atau tidak, namun kemampuan kita untuk bisa. Seperti kami mendampingi Pak Luhut ke Kamboja, mereka bertanya kapan? Kapan Garuda bisa ke sini? Jadi akhirnya Pak Luhut lewat jalur dia mendorong dan sekarang Lion Air sudah deal. Hal yang demikian tergantung juga pada kemampuan untuk bisa terbang ke sana. Memang konektivitas jadi kendala, namun sekarang ini ada ide untuk e-commerce. Jadi e-commerce ada e-katalog. Yang penting produknya bagus, mutu dan standarnya sesuai.

Kalau orang sudah mau, dia bisa memesan melalui online, karena kita ada 5 unicorns itu. Ke depannya, masyarakat Jakarta saja, yang sudah mulai beli online karena males macet, konektivitas lagi sekarang.Jadi mereka beli online. Pengiriman barang enggak perlu ada toko di situ. Pokoknya produk berkualitas dan terjamin serta harga bersaing. Perlu ada peningkatan kapasitas terus menerus.

Harapan untuk ASEAN?

Harapan kita untuk ASEAN tetap berperan aktif untuk menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan agar pembangunan kita yang saat ini dilakukan selama 50 tahun terakhir dapat terus berlanjut di masa depan. Sehingga, masyarakat Indonesia yang begitu luas dapat kesejahteraan yang lebih baik. Dan penting bagi masyarakat Indonesia untuk mengetahui tentang ASEAN. Dengan demikian dapat meraih peluang yang ada di ASEAN.


(FJR)


Pameran Replika Stasiun Kereta Api Bersejarah di AS

Pameran Replika Stasiun Kereta Api Bersejarah di AS

1 hour Ago

Ribuan pengunjung setiap tahun datang ke U.S. Botanic Garden atau Kebun Raya AS di Washington untuk…

BERITA LAINNYA