Penelitan Sebut Asap dari Indonesia Sebabkan 100 Ribu Kematian Dini

Fajar Nugraha    •    Selasa, 20 Sep 2016 12:51 WIB
asap
Penelitan Sebut Asap dari Indonesia Sebabkan 100 Ribu Kematian Dini
Asap dari kebakaran lahan di Riau (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ilmuwan dari Universitas Harvard dan Universitas Columbia, mengeluarkan hasil penelitian mengenai kabut asap. Keduanya menyebutkan asap dari kebakaran hutan di Indonesia menyebabkan 100 ribu kematian prematur.
 
Hasil penelitian ini kemungkinan besar akan menambah tekanan bagi Pemerintah Indonesia untuk mengatasi krisis yang terjadi hampir setiap tahun itu. Hasil penelitian pun akan dipublikasikan di jurnal Environmental Research Letters.
 
Tentunya hasil penelitian tersebut bisa memaparkan dampak serius atas kesehatan masyarakat terkait kabut asap akibat kebakaran hutan. Selama ini kebakaran hutan itu diduga berasal dari pembukaan lahan perkebunan baru, di wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan.
 
Angka kematian dari penelitan ini muncul dari perkiraan yang datang analisa kompleks. Namun angka ini belum divalidasi dari analisis data kematian yang resmi.
 
Associated Press, 19 September menyebutkan bahwa penelitian ini memiliki implikasi dari penggunaan lahan dan industri kertas yang berkembang luas di Indonesia. Para peneliti memperlihatkan bahwa lahan gambut dalam konsensi hutan dan gambut secara keseluruhan, menjadi pemicu kebakaran terbesar seperti yang diawasi oleh satelit pada 2006.
 
Api yang tidak terkendali di Riau, Sumatera Selatan dan Kalimantan memicu penyebarkan asap hingga ratusan kilometer ke Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Hal ini menyebabkan penurunan level kualitas udara, masalah kesehatan dan kerugian ekonomi. 


Asap yang terjadi di Malaysia (Foto: Asian Correspondent)

 
Penelitian ini menduga bahwa pengeringan dari lahan gambut,-yang akan digunakan untuk lahan kebun baru- membuatnya makin rapuh akan api. 
 
Sementara perkiraan kematian prematur atau dini, dikaitkan dengan penyakit pernapasan dan sebab lainnya. Jumlah korban meninggal penelitian ini berada di Indonesia, kemudian di Singapura dan Malaysia.
 
Tetapi jumlah besar dari korban meninggal berada di Indonesia, yang populasi lebih besar di antara tiga negara yang terkena imbas kebarakan hutan ini. Wilayah yang terbakar di Indonesia pun jelas lebih luas dibanding kedua negara lainnya.
 
"Berdasarkan hasil penelitian ini ada statistik tinggi yang menunjukkan kematian dini antara 26.300 hingga 174.300. Perkirakaan utamanya mencapai 100.300 kematian dari rata-rata statistik itu," berdasarkan hasil penelitian ini, seperti dikutip Associated Press, Selasa (20/9/2016).
 
"Diperkirakan 91.600 kematian tercatat di Indonesia, 6.500 lainnya di Malaysia dan 2.200 kematian tercatat di Singapura," lanjut hasil penelitian itu.
 
Dampak kesehatan diarahkan kepada warga dewasa
 
Para peneliti yang melakukan penelitian ini menyebutkan bahwa yang dikembangkan berasal dari observasi satelit dan lokasi penelitian di darat, yang menganalisa kabut asap dalam waktu sebenarnya. Ini memberikan potensi bisa digunakan oleh petugas pemadam kebakaran bisa mengurangi jumlah korban sakit akibat asap.
 
Namun, skala perkiraan asap menimbulkan akibat serius terhadap kesehatan diindikasikan oleh pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Oktober. Menurut BNPB lebih dari 43 juta warga Indonesia terekspos asap dari kebakaran hutan dan sekitar 500.000 jiwa yang menderita gangguan saluran pernapasan akut.
 
Sementara penelitian ini hanya menghitung pengaruh terhadap kesehatan kalangan dewasa. Selain itu penelitian juga dibatasi kepada efek kesehatan yang mengancam partikulat atau lebih dikenal sebagai PM2,5, dibanding seluruh racun yang termasuk dalam asap hasil pembakaran lahan gambut dan hutan.
 
Kebakaran yang terjadi antara Juli hingga Oktober 2015 di Sumatera Selatan dan di Kalimantan dianggap sebagai terburuk sejak 1997. Selain itu, kondisi El Nino yang kering juga memperburuk keadaan.
 
Sekitar 261.000 hektar lahan terbakar dalam kejadian tersebut. Sebagian api muncul karena tidak disengaja tetapi banyak sekali api dipicu oleh secara sengaja oleh perusahaan dan warga yang ingin membuka lahan perkebunan baru.  

 



(FJR)