Isu Laut China Selatan dan Rohingya Dibahas di KTT ASEAN

Sonya Michaella    •    Kamis, 09 Nov 2017 13:21 WIB
ktt asean
Isu Laut China Selatan dan Rohingya Dibahas di KTT ASEAN
Direktur Politik dan Keamanan ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Chandra W. Yudha (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi akan mendampingi Presiden RI Joko Widodo untuk hadir di KTT ASEAN yang dihelat di Manila, Filipina, 12-14 November 2017.
 
"12 November ada selebrasi 50 Tahun ASEAN, dilanjutkan 13 dan 14 November. KTT ini merupakan KTT ke-31. 10 pemimpin negara ASEAN akan bertemu dengan pemimpin negara mitrawicara," kata Direktur Politik dan Keamanan ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Chandra W. Yudha kepada awak media di Kemenlu RI, Jakarta, Kamis 9 November 2017.
 
"Dalam KTT ini akan dihasilkan kurang lebih 55 outcome document (dokumen akhir). Beberapa diantaranya sedang dalam pembahasan dan akan selesai," lanjut dia.
 
Senada dengan Chandra, Direktur Kerja Sama Eksternal ASEAN Kemenlu RI Benny Y.P Siahaan juga mengutarakan bahwa akan ada 10 pertemuan ASEAN dengan negara mitrawicara.
 
"Hari pertama 13 November itu ada pertemuan dengan Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang dan PBB. Esoknya akan ada pertemuan ASEAN Plus Three, dengan Kanada, Uni Eropa, East ASEAN Summit dan India," ucap Benny.
 
Isu-isu penting akan dibahas di sini seperti Laut China Selatan, Semenanjung Korea, penanggulangan terorisme, Rohingya, dan kemerdekaan Palestina.
 
Benny menjelaskan, ada sedikit perbedaan pertemuan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya di mana setiap kepala negara akan menyampaikan topik yang menjadi perhatian negara itu sendiri.
 
"Jadi menghemat waktu juga. Topik yang sama tidak diulang pembahasannya jika sudah sependapat, hanya penekanan saja. Namun, tetap tidak mengurangi kepentingan mereka," ungkap Benny lagi.
 
Tak hanya isu-isu penting, di bidang ekonomi seperti peningkatan nilai investasi, finalisasi regional komprehensif, dorongan UMKM, konektivitas juga akan dibahas.
 
Di bidang sosial budaya, ada pembahasan peningkatan antar masyarakat, kerja sama pemuda di pendidikan dan mendorong penanggulangan risiko bencana alam.



(FJR)