Penyandera 2 WNI Tewas di Tangan Militer Filipina

Fajar Nugraha    •    Kamis, 07 Sep 2017 14:19 WIB
wni disandera abu sayyaf
Penyandera 2 WNI Tewas di Tangan Militer Filipina
Militer Filipina melakukan operasi di basis-basis pertahanan Abu Sayyaf (Foto: ABS-CBN).

Metrotvnews.com, Jolo: Laporan mengenai dua anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) yang menyelamatkan diri dari penyanderaan Abu Sayyaf di Kepulauan Sulu, diakui oleh militer Filipina.
 
 
Menurut pihak militer Filipina, keduanya melarikan diri setelah terjadi penyerangan terhadap basis persembunyian Abu Sayyaf. Operasi tersebut berlangsung di Brgy. Bunot, Kota Indanan, Kepulauan Sulu, Kamis 7 September.
 
Kedua WNI tersebut diculik sembilan bulan lalu di perairan Malaysia. Kemudian mereka dibawa ke Pulau Jolo, Filipina yang merupakan wilayah basis kekuatan Abu Sayyaf.
 
Penyanderaan dua WNI ini berakhir, setelah mereka muncul di pos militer Jolo usai pasukan Filipina terlibat pertempuran dengan para penculiknya. 
 
"Prajurit kami menemukan mereka berada di sebuah pos penjaga, di mana keduanya di atas sebuah kendaraan," ujar Komandan Pasukan Gugus Tugas Gabungan (JTF) wilayah Indanan, Brigadir Jenderal Cirilito Sobejana, seperti dikutip AFP, Kamis 7 September 2017.
 
"Sepertinya mereka berhasil melarikan diri dari penyanderannya, setelah pertempuran yang terjadi 30 menit sebelum mereka kabur. Keduanya dalam kondisi selamat, tetapi tampaknya kekurangan makanan," jelasnya.
 
Dalam operasi militer tersebut, lima anggota Abu Sayyaf dilaporkan tewas. Sementara lima prajurit Filipina terluka dalam baku tembak.
 
Menurut Brigjen Sobejana, penyandera masih menyekap 15 sandera lainnya. 13 orang sandera itu diketahui warga asing, sementara dua lainnya warga Filipina.
 
Abu Sayyaf dikenal kerap bertindak kejam terhadap korban sandera mereka, terutama jika uang tebusan tidak dibayar. Salah satu kasus adalah pemenggalan terhadap sandera asal Jerman, Jurgen Kantner.
 
Kantner dipenggal pada Februari lalu setelah uang tebusan sebesar 30 juta peso tidak dibayarkan. Sementara 2016 lalu, dua sandera asal Kanada juga dipenggal.
 
Kelompok militan Abu Sayyaf dibentuk pada 1990, dengan uang sisa dari jaringan Al Qaeda. Mereka melakukan kegiatan teror disertai dengan penculikan dengan tujuan mendapat uang dari tebusan yang diminta.
 
Salah satu faksi dari Abu Sayyaf pun menyatakan sumpah mereka kepada kelompok militan Islamic State (ISIS). Sejak Mei lalu, faksi ini menguasai sebuah kota di wilayah selatan Filipina, di Marawi.
 
Meski sudah dilakukan operasi militer, kelompok ini menguasai sebagian dari Marawi. Hingga saat ini 800 jiwa dilaporkan dan 400 ribu orang lainnya mengungsi, karena pertempuran antara militer Filipina dan kelompok yang menguasai Marawi.



(FJR)