Presiden Korsel Jelaskan Pembelian Ratusan Pil Viagra

Willy Haryono    •    Rabu, 23 Nov 2016 15:48 WIB
korea selatan
Presiden Korsel Jelaskan Pembelian Ratusan Pil Viagra
Presiden Korsel Park Geun-hye. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Seoul: Skandal korupsi dan kolusi yang membelit Presiden Park Geun-hye kian rumit setelah terungkap dirinya pernah membeli ratusan pil viagra. 

Terungkapnya hubungan Park dengan sahabat dekatnya, Choi Soon-sil dan ayah Choi -- pendiri grup religius di Korsel -- memicu protes luas di Negeri Gingseng. Park diketahui telah membiarkan Choi, seorang warga sipil, terlibat dalam urusan kenegaraan.

Selasa 22 November, partai oposisi memaparkan fakta bahwa kantor kepresidenan Park telah membeli ratusan pil viagra tahun lalu. Viagra adalah pil yang dapat membantu mengobati disfungsi ereksi. 

Juru bicara Park mencoba menenangkan keributan di media dengan menyebut ratusan pil dibeli untuk mengantisipasi sakit yang diderita Park saat mengunjungi negara dengan geografis dataran tinggi di Afrika, termasuk Ethiopia. 

"Kami membeli itu untuk perjalanan, tapi tidak menggunakannya," ucap Jung Youn-kuk kepada awak media, yang menyebut viagra terbukti efektif mengobati penyakit ketinggian. 

Park belum pernah menikah dan diketahui tidak memiliki kekasih saat ini. 


Pendemo menggunakan topeng berwajah Park dan Choi. (Foto: AFP)

Kantor kepresidenan Park juga membeli ratusan ekstrak plasenta manusia dan vitamin beberapa tahun lalu -- yang diketahui dapat digunakan untuk detoksifikasi dan perawatan anti-penuaan.

Jung mengatakan ratusan pil dan ekstrak dibeli dan juga diberikan kepada staf kepresidenan, termasuk pengawal pribadi Park. 

Baca: Oposisi Korsel Mulai Berupaya Makzulkan Presiden Park

Tim jaksa sedang memeriksa apakah Park juga memesan berbagai vaksin untuk dirinya sendiri dengan menggunakan nama Choi di klinik privat tanpa memberitahu staf medis. 

Ratusan ribu orang turun ke jalanan kota Seoul pada Sabtu 19 November, dalam aksi hari keempat secara berturut-turut dalam sepekan terakhir. Ini merupakan unjuk rasa terbesar di Korsel sejak era 1980-an. 

Masa kepemimpinan Park berakhir pada Februari 2018. Ia menolak desakan mundur dari jabatan. Namun ia telah dua kali meminta maaf, dengan mengakui keteledorannya terkait hubungan pribadi dengan Choi. Ia juga menegaskan apa yang dia lakukan selama ini semata untuk perekonomian Korsel.

 


(WIL)