Korban Banjir Bertambah, PM Jepang Janjikan Bantuan

   •    Jumat, 13 Jul 2018 14:34 WIB
jepangtopan badai
Korban Banjir Bertambah, PM Jepang Janjikan Bantuan
PM Jepang Shinzo Abe bertemu dengan para pengungsi (Foto: AFP).

Tokyo: Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bertemu dengan korban selamat bencana banjir dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 204 jiwa pada Jumat. Abe menjanjikan penambahan bantuan yang dikirim pemerintah.
 
Jumlah korban dari bencana ini terus meningkat ketika tim penyelamat menggali puing-puing bangunan dan menemukan para korban yang dilaporkan hilang.
 
Pada Jumat 13 Juli 2018, Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengatakan bahwa jumlah korban meninggal 204 orang dan 28 orang dinyatakan hilang.
 
"Sekitar 73.000 tim penyelamat termasuk polisi dan pasukan tentara sedang bekerja sekeras mungkin dengan prioritas menyelamatkan banyak jiwa," ucap Suga, seperti dikutip AFP, Jumat 13 Juli 2018.
 
Abe yang membatalkan perjalanannya ke luar negeri untuk mendatangi lokasi bencana, kembali tiba di wilayah yang terkena imbas akibat bencana ini.
 
Tayangan televisi menunjukkan Abe yang mengunjungi wilayah Seiyo di Prefektur Ehime. Abe tampakmengunjungi rumah-rumah yang rusak dan berbicara dengan penduduk sekitar.
 
Jumat pagi, Abe menjanjikan bantuan baru pada saat pertemuan mengenai satuan tugas pemerintah mengenai bencana tersebut.
 
Pemerintah telah mengatakan akan memberikan sekitar USD18 juta dana cadangan dari anggaran tahun ini dan Abe mengatakan senilai USD312 juta dalam bentuk hibah pajak akan disalurkan lebih awal kepada pemerintah daerah di daerah yang terkena dampak.
 
"Saya ingin pemerintah daerah di wilayah bencana untuk melakukan semua yang mereka bisa untuk bantuan darurat dan rekonstruksi. Tanpa ragu-ragu dana harus untuk dikeluarkan," ucap Abe.
 
Kementerian Pertanian memperkirakan kerugian akibat bencana mencapai setidaknya USD207 juta. Angka itu kemungkinan akan meningkat karena operasa pembersihan yang masih berlanjut dan skala kerusakan yang semakin jelas.
 
Pejabat Kementerian Pertanian Yasuhisa Hamanaka mengatakan kepada AFP, "Itu bisa menjadi gunung es, karena kami belum dapat pergi dan memeriksa lapangan."
 
Menteri Pertanian Ken Saito mengatakan bahwa biaya sebagian sayuran telah meningkat antara 10-30 persen dan kementerian akan "memantau dengan cermat" kenaikan harganya.
 
Jumlah korban di daerah bencana yang sekarang menjadi bencana cuaca paling parah di Jepang selama lebih dari tiga dekade dipertanyakan apakah pihak berwenang disiapkan dengan benar dan telah bertindak efektif.
 
Dicatat dari harian berbahasa Inggris Japan Times, bahwa banjir yang menelan satu distrik Kurashiki di Okayama sejalan dengan prakiraan cuaca dari pemerintah setempat.
 
Tetapi surat kabar itu mengatakan dalam editorial, "Perintah evakuasi dikeluarkan oleh kota untuk para penduduk di beberapa daerah distrik hanya beberapa menit sebelum tanggul ambruk. Kami perlu memeriksa dengan teliti pertahanan kami terhadap bencana seperti itu, mengidentifikasi titik lemah dan memperbaikinya". (Khalisha Firsada)


(FJR)