Kebakaran dan Penembakan Kembali Terjadi di Rakhine

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 24 Jan 2018 02:58 WIB
kebakarankonflik myanmar
Kebakaran dan Penembakan Kembali Terjadi di Rakhine
Anak-anak di sebuah desa di Rakhine mengais puing-puing dari rumah-rumah yang dibakar saat operasi militer Myanmar beberapa bulan lalu. Foto/REUTERS/Soe Zeya Tun

Cox's Bazar: Pejabat Bangladesh mengatakan kebakaran dan penembakan kembali terjadi di sebuah desa di Rakhine, Myanmar. Pejabat tersebut mengatakan sebuah api besar terlihat mengamuk di sebuah desa yang ditinggalkan.

Api tersebut terlihat dari Tombru, pos perbatasan di distrik Cox's Bazar.

Kebakaran terjadi malam hari sebelum Bangladesh akan memulangkan ratusan ribu pengungsi minoritas Myanmar ke negara bagian Rakhine. Pemulangan kembali ini terjadi karena kesepakatan antara pemerintah Bangladesh dan Myanmar.

Proses pemulangan rencananya akan dimulai pada Selasa, 23 Januari 2018 dan berakhir dalam dua tahun mendatang. Meski demikian, diakui kedua negara bahwa mereka belum siap melakukan usaha besar tersebut.

Salah seorang pengungsi, Abul Naser (42) mengatakan dia juga melihat api dan asap yang membumbung tinggi ke udara.

"Mereka mencoba mengirim pesan kepada kami, mereka mencoba menaku-nakuti kami sehingga kami tidak akan pernah kembali lagi," ucapnya merujuk pada pasukan militer Myanmar, seperti dilansir dari laman AFP, Selasa 23 Januari 2018.

Kabar kebakaran desa di Rakhine menyebar cepat di antara para pengungsi etnis minoritas Rohingya melalui media sosial. Sebagian besar dari mereka menyalahkan para tentara Myanmar sebagai pelaku dibalik kebakaran tersebut.

"Api itu dirancang untuk menghancurkan sisa-sisa rumah warga etnis Rohingya yang tersisa, sehingga kami tidak bisa kembali lagi ke desa," seru aktivis Rohingya Rafique bin Habib.

Dia menambahkan, tanpa rumah orang Rohingya yang kembali dibawah kesepakatan repatriasi tersebut akan ditolak aksesnya.

Hampir satu juta warga etnis Rohingya melarikan diri dari desa mereka di wilayah Rakhine, setelah kekerasan terjadi di wilayah tersebut. Pemerintah Myanmar dan Bangladesh bulan lalu sepakat melakukan repatriasi.

Meski demikian, banyak pengungsi bersatu melawan program repatriasi itu. Alasannya, mereka takut kembali dianiaya jika kembali ke wilayah tersebut.


(CIT)