Seorang Pekerja RI di Korsel Mampu Menabung Hingga Rp707 Juta

Fajar Nugraha    •    Selasa, 02 Jan 2018 15:45 WIB
tki
Seorang Pekerja RI di Korsel Mampu Menabung Hingga Rp707 Juta
Pekerja Indonesia di Korea Selatan mampu menabung dalam jumlah besar (Foto: KBRI Seoul).

Seoul: Tak selamanya predikat pekerja migran Indonesia (PMI),-yang dahulu dikenal dengan sebutan tenaga kerja Indonesia (TKI),- memiliki nasib tidak baik. 
 
Kondisi berbeda tampak dari PMI yang bekerja di Korea Selatan (Korsel). Tercatat jumlah PMI yang mencari nafkah di Negeri Gingseng mencapai sekitar 38 ribu jiwa.
 
Pejabat Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI Seoul) M.Aji Surya menjelaskan, hampir seluruh dari pekerja asal Indonesia memiliki ketrampilan mumpuni.
 
"Tidak ada PMI kita di Korea bekerja di rumah tangga. Mereka umumnya bekerja di pabrik atau bidang manufaktur," ujar M. Aji Surya, saat berbicara kepada Medcom.id, Selasa 2 Januari 2018.
 
"Selama bekerja, mereka disediakan tempat tinggal (oleh perusahaan). Pendapatan mereka per bulan pun hampir mencapai Rp17 juta. (Dengan fasilitas yang disediakan) kalau mau irit, pendapatannya nyaris utuh," jelasnya.
 
Menariknya penghasilan dari para PMI ini bisa melonjak tajam, karena ada sistem lembur yang berlaku di tiap perusahaan. Menurut Aji, pekerja umumnya pulang pukul 6.00 sore dengan lembur bisa pulang pada pukul 8.00 malam. Sedangkan jika ditambah lembur di hari libur, penghasilannya bisa bertambah dua kali lipat.
 
Dengan jumlah yang cukup besar ini, dimanfaatkan oleh BNI cabang Seoul yang menyimpan tabungan dari PMI ini. Jumlahnya pun tidak sedikit. Berdasarkan keterangan dari General Manager BNI Seoul Wan Andi A, salah satu nasabah dari PMI Korsel bisa menabung hingga Rp770 juta. Jumlah itu merupakan yang tertinggi sepanjang 2017.
 
Andi menjabarkan di hari pertama tahun 2018. Selama satu tahun cabangnya berhasil menghimpun tabungan 3.100 pekerja dengan nominal Rp43,5 miliar.
 
"Kiriman uang lewat BNI Seoul rata-rata 2.500 slip per bulan. Nasabah penabung tertinggi berasal dari daerah Jawa Barat dengan saldo mencapai Rp770 juta rupiah," pungkas Andi, dalam keterangan tertulis KBRI Seoul.


Cabang BNI di Seoul, Korea Selatan (Foto: KBRI Seoul).
 
 
Jumlah tersebut tidak mengherankan, mengingat PMI di Korsel memang mendapatkan gaji yang sama dengan warga setempat atau kisaran Rp15-17 juta. Selain itu, tingkat lemburannya juga banyak sehingga per bulan bisa meraup antara Rp20-30 juta. Belum lagi tempat tinggal gratis dan makan dua kali ditanggung perusahaan.
 
"Dalam kalkulasi sederhana saya, setiap bulan mereka mampu menyisihkan uang rata-rata Rp15 juta. Nah, kalau mereka disini 4 tahun 10 bulan, silakan kalikan sendiri," ucapnya.
 
M. Aji Surya sebelumnya menjelaskan bahwa kontrak dari para PMI yang bekerja di Korsel umumnya sepanjang tiga tahun. Namun kontrak itu bisa diperpanjang 1 tahun 10 bulan, total masa kerja mereka bisa mencapai 4 tahun 10 bulan.
 
"(Para PMI) ini legal. Penempatan mereka (berdasarkan kesepakatan) g to g (pemerintah ke pemerintah). Ketika mau berangkat ke Korea mereka dites oleh BNP2TKI dan kemudian dites ulang oleh lembaga setara BNP2TKI Korea. Mereka akan dites. Setiap tahun 4.500-5.500 yang diambil oleh perusahaan Korea tanpa ada broker," imbuh Aji.
 
Keberadaan para PMI ini di Korsel pun tidak terlalu banyak masalah. "90 persen perusahaan rata-rata senang dengan PMI kita, karena rajin dan tidak ngeyel," tuturnya.
 
Dengan keuntungan semacam ini diperlukan tangan pihak Indonesia demi menjamin dana dari PMI bisa disalurkan kepada keluarga mereka di Tanah Air. Keberadaan BNI di Seoul antara lain untuk menjembatani para pekerja berkantung tebal tersebut. Aktivitas BNI terkait pekerja Indonesia antara lain bekerja sama dengan KBRI dalam kegiatan pemberdayaan dan pemberian beasiswa bagi TKI yang melanjutkan studi di Universitas Terbuka (UT).
 
Selain itu, BNI juga melakukan sinergi dengan Garuda Indonesia sehingga setiap pemegang kartu membership BNI Seoul yang terbang dengan Garuda dari Korea Selatan mendapatkan tambahan keuntungan bagasi 10 kilogram.
 
Selama beroperasi hampir dua tahun, performance BNI Seoul cukup bagus. Profit tahun lalu sebanyak 2.075 miliar Won Korea atau setara Rp26 miliar. Sedangkan asetnya kini meroket menjadi 309 miliar Won Korea atau sekitar Rp3,9 triliun.
 
"Pada 2018, BNI Seoul akan mulai fokus pada Indonesia related business, khususnya pembiayaan transaksi perdagangan atau perdagangan antara Korea dan Indonesia," pungkas Andi.
 
Meskipun secara umum kondisi di Korsel masih terhitung bagus, masih ada ruang yang perlu diperbaiki. Faktor bahasa menjadi yang hal paling penting, menurut M. Aji Surya.
 
Baginya, komunikasi itu merupakan alat yang terpenting dalam bekerja. Beberapa kasus yang terjadi di Korea menurutnya, hanya karena kesalahpahaman komunikasi.

(FJR)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

4 hours Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA