Warga Rohingya Larikan Diri Tinggalkan Desa Sunyi

Arpan Rahman    •    Selasa, 14 Nov 2017 19:08 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Warga Rohingya Larikan Diri Tinggalkan Desa Sunyi
Warga Rakhine yang keluar demi mencari perlindungan di Bangladesh (Foto: AFP).

Maungdaw: Desa-desa yang permai dan sawah yang tidak sempat panen meluas sampai ke batas cakrawala di negara bagian Rakhine yang memberontak dengan kekerasan di Myanmar.

Di sana, jumlah Muslim Rohingya, yang semakin berkurang, tetap terjebak dalam tempat sepi setelah tindakan keras tentara membumihanguskan daerah tersebut.

Suatu perjalanan yang jarang diizinkan militer bagi media asing naik helikopter ke distrik Maungdaw -- pusat krisis yang meledak pada akhir Agustus -- menunjukkan pemandangan tanpa manusia. Untaian padi yang menyelimuti sawah-ladang Rohingya telah membusuk dalam kehancuran.

Lebih dari 600.000 Muslim Rohingya sudah menyelamatkan diri selama dua setengah bulan terakhir. Berlari dari sebuah kampanye bumi-hangus militer melawan militan, yang digambarkan PBB sebagai contoh tentang pembersihan etnis di Rakhine.

Myanmar, negara yang sebagian besar beragama Budha, membantah berbuat kejam. Namun telah membatasi akses ke zona konflik kecuali kunjungan singkat yang diorganisir oleh pemerintah.

Di bawah pengawasan ketat seorang brigadir tentara dan polisi perbatasan, sejumlah wartawan, pada Minggu 12 November, dapat berbicara dengan beberapa ratus warga Rohingya berkemah di pantai dekat desa Ale Than Kyaw. Para pelarian berharap dapat menyeberangi perairan yang ganas ke negara tetangga Bangladesh.

Sementara kekerasan terburuk tampaknya mereda, mereka yang tertinggal mengatakan terjebak -- tidak mampu membayar biaya kapal USD50. Namun mereka tanpa sarana buat mencari nafkah di wilayah ini.

"Kami dulu bekerja di pertanian dan memancing, tapi sekarang pemiliknya tidak mencari buruh," kata Osoma, 25 tahun, menjelaskan bahwa kebanyakan bisnis Rohingya dan pemilik tanah ikut dalam eksodus tersebut.

Ibu muda tiga anak itu, yang membawa bayi berumur sebulan dalam pelukannya, menuturkan bahwa keluarganya tidak yakin apakah kehidupan di kamp pengungsi Bangladesh akan lebih baik.

"Tapi kami ingin tinggal dengan yang lain yang sudah ada di sana," katanya kepada AFP, seperti dilansir Selasa 14 November 2017.

Putus asa, melarikan diri

Distrik Maungdaw paling timur Rakhine dulunya merupakan hunian bagi sekitar tiga perempat dari populasi Rohingya 1,1 juta jiwa di Myanmar, menurut data pemerintah.

Pekerja bantuan memperkirakan bahwa hanya sekitar 150.000 yang tersisa di sana. Komunitas lain tinggal di selatan.

Tak seorang pun tersisa mau bekerja di ladang Maungdaw, hamparan luas lahan pertanian yang menghijau berisiko membusuk. Ironi yang keji mengingat kekurangan pangan yang parah di Rakhine bergantung pada bantuan dan kamp pengungsi kumuh di seberang perbatasan.

Pemerintah Myanmar mengaku sudah mengirim truk berisi pekerja dari bagian lain negara tersebut guna memanen 70.000 hektar sawah terlantar.

Tapi beberapa hamparan lahan yang tak tersentuh sudah mulai berubah menjadi cokelat di daerah bergunung-gunung.

Perjalanan media ke Rakhine diadakan di tengah meningkatnya tekanan global terhadap Myanmar karena penanganan krisis. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson akan mengunjungi ibukota tersebut, pada Rabu.

Diplomat tinggi Amerika itu diharapkan mengambil sikap tegas atas pemimpin militer kuat negara tersebut, yang dia anggap "bertanggung jawab" terhadap krisis.

Sementara itu, di tepi pantai Rakhine -- beberapa orang Rohingya yang putus asa menangani masalah dengan tangan mereka sendiri.

Ro Shi Armad, 18, sudah bekerja sama dengan beberapa keluarga lain buat membangun rakit tipis, memakai wadah plastik dan bambu.

Sejumlah pengungsi telah tenggelam dalam beberapa bulan terakhir saat menempuh pelayaran berbahaya ke Bangladesh.

"Kami tidak khawatir jika kami mati dalam perjalanan. Apa lagi yang bisa kita lakukan sekarang?" kata remaja tersebut kepada AFP.



(FJR)