60 Pemuda Dunia Menari Tarian Tradisional RI di Indonesia Channel

Marcheilla Ariesta    •    Jumat, 18 Aug 2017 19:02 WIB
kemenlu
60 Pemuda Dunia Menari Tarian Tradisional RI di Indonesia Channel
Para pemuda dari luar Indonesia yang memamerkan kemahiran menari tarian Indonesia di Kemenlu beberapa waktu lalu (Foto: Fajar Nugraha/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Surabaya: Sebanyak 60 orang berasal dari berbagai penjuru dunia berkumpul dan belajar seni budaya Indonesia. Mereka belajar selama tiga bulan di lima kota besar di Indonesia.
 
Malam ini, Jumat, 18 Agustus 2017, para pemuda dan pemudi yang tergabung dalam program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) akan mempertontonkan kebolehan mereka belajar tari-tarian tradisional Indonesia yang telah mereka pelajari.
 
Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Al Busyra Basnur kepada Metrotvnews.com, lewat sambungan telepon, pada 18 Agustus 2017, menuturkan bahwa program ini bertujuan untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia lewat pemuda dari segala penjuru dunia.
 
"Nama programnya Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia. Program ini bertujuan untuk menambah, memperbanyak dan meningkatkan kualitas persahabatan dengan negara-negara lain lewat seni dan budaya," ujar Al Busyra.
 
Al Busyra menjelaskan, program ini dilakukan setiap tahun sejak 2002 silam. Awalnya, memang pesertanya berjumlah 70 orang, namun untuk menyesuaikan anggaran Kementerian Luar Negeri, sudah dua tahun terakhir pesertanya dipangkas menjadi 60 orang. Walaupun demikian, program ini sudah berhasil menghasilkan 776 alumni dari 69 negara.
 
Tahun ini, 60 peserta BSBI berasal dari 45 negara, termasuk di antaranya Indonesia.
 
"Kenapa pemuda Indonesia ikut serta? Karena program ini merupakan jaringan dan kita ingin masyarakat pemuda kita memiliki sahabat di luar negeri. Selain itu, kita juga ingin menanamkan rasa lebih mencintai seni dan budaya tradisional Indonesia. Untuk tahun ini ada empat pemuda Indonesia yang bergabung dengan program kita," tuturnya.
 
"Negara-negara utama yang menjadi peserta BSBI berasal dari ASEAN, Pasifik Selatan, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya, kemudian ada Eropa, Amerika dan Afrika yang tahun ini diwakili Afrika Selatan," lanjut Al Busyra.
 
Ada dua jenis program yang dilakukan selama para peserta BSBI berada di Indonesia. Pertama program reguler dan ada juga program kekhususan. Al Busyra menjelaskan di program reguler para peserta akan belajar di empat sanggar seni budaya yang ada di empat kota Indonesia, yaitu Makassar, Denpasar, Surabaya dan Padang.
 
"Mereka belajar tari tarian tradisional, bahasa dan semua hal yang berkaitan dengan seni dan budaya Indonesia. Sementara untuk program kekhususan, para peserta BSBI akan belajar mengenai Indonesia secara akademis di Universitas Pembangunan Negara Veteran (UPN Veteran) Yogyakarta," jelasnya.
 
Hasil dari belajar seni budaya Indonesia selama tiga bulan akan dipertunjukkan malam ini dalam acara Indonesia Channel, yang akan diselenggarakan di Surabaya. Acara tersebut dihadiri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
 
Busyra menambahkan, para peserta BSBI akan mengikuti pembukaan Festival Layang-layang Pakuwon City besok pagi. Sore harinya, bersama Risma para peserta ini aka menanam pohon.
 
"Penanaman pohon ini yang pertama kalinya dilakukan dalam program BSBI. Hal ini tentu akan berkesan untuk mereka," serunya.
 
Para peserta BSBI merasa senang dengan adanya program ini. Busyra menuturkan penerimaan mereka atas program ini sangat positif.
 
Sebagai penutup, Busyra mengharapkan para alumni program BSBI ini bisa mempromosikan Indonesia lewat seni dan budaya ke kampus dan teman-teman di negara asal mereka. Pemuda-pemuda mancanegara ini juga bisa bekerja sama dengan perwakilan RI di negara asalnya apabila ingin membuat acara atau aktivitas yang bertujuan mempromosikan Indonesia.
 
"Banyak dari peserta BSBI kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian, membuat film, menulis lagu dan lain-lain. Tahun ini, 13 dari 60 peserta yang ikut aka memperpanjang masa tinggal mereka di Indonesia untuk melakukan penelitian dan menambah ilmu pengetahuan mereka akan seni dan budaya Indonesia," pungkas dia.
 
Dia menambahkan dua peserta yang masing-masing berasal dari Moldova dan Fiji bahkan menulis novel visual mengenai pedalaman dan kebudayaan Indonesia.



(FJR)