Hampir 26.000 Senjata Diserahkan Warga kepada Pemerintah Australia

Arpan Rahman    •    Jumat, 08 Sep 2017 20:07 WIB
australia
Hampir 26.000 Senjata Diserahkan Warga kepada Pemerintah Australia
Senjata milik warga yang diserahkan kepada Pemerintah Australia (Foto: AAP).

Metrotvnews.com, Canberra: Hampir 26.000 senjata api diserahkan kepada pihak berwenang selama dua bulan terakhir. Penyerahan dalam amnesti senjata nasional Australia itu, yang pertama sejak lebih dari 20 tahun.
 
Menteri Kehakiman, Michael Keenan, mengatakan bahwa penyerahan tersebut adalah "hasil yang bagus". Ini menunjukkan bahwa warga Australia serius melindungi diri dan keluarga mereka, dengan memberikan rata-rata 464 senjata api per hari sejak 1 Juli.
 
Ribuan senjata api dikumpulkan di New South Wales (13.468), Queensland (7.000), Victoria (2.150), Tasmania (1.136), dan Australia Selatan (1.338).
 
Warga di Wilayah Ibu Kota Australia (264), Australia Barat (521), dan Northern Territory (122) di samping ratusan lainnya.
 
Amnesti nasional salah satu tindakan yang disetujui pemerintah negara bagian dan teritori pada Februari sebagai bagian dari Revisi Perdamaian Nasional 2017.
 
Perjanjian yang direvisi tersebut dipicu oleh penyanderaan di Martin Place, Sydney. Akibatnya, pemerintahan Perdana Menteri Malcolm Turnbull melakukan peninjauan kembali atas kesepakatan senjata api 1996 yang diajukan oleh pemerintahan PM Howard setelah pembantaian Port Arthur.
 
Amnesti 2017 juga dipercepat karena meningkatnya jumlah senjata api yang tidak terdaftar di Australia. Diperkirakan oleh badan penegak hukum dan badan intelijen, awal tahun ini mencapai sekitar 260.000 pucuk senjata.
 
"Sekarang hanya tersisa tiga pekan untuk menyerahkan senjata api di bawah amnesti dan saya mendorong warga Australia agar terus memanfaatkan periode amnesti demi membantu memberikan senjata api yang tidak terdaftar di masyarakat," kata Keenan, seperti dilansir Guardian, Jumat 8 September 2017,. 
 
"Seperti yang kita tahu, hanya sepucuk senjata api di tangan yang salah bisa mematikan," ujarnya.
 
Amnesti 2017 akan berakhir pada 30 September. Cara ini memungkinkan siapa pun yang memiliki senjata api atau barang tidak sah yang tidak diinginkan atau tidak terdaftar menyerahkannya secara legal di titik pengumpulan yang ditunjuk di setiap negara bagian dan teritori.
 
Tidak ada biaya penyerahan senjata api dan tidak ada data pribadi yang disetorkan. Di luar periode amnesti saat ini, siapa pun yang tertangkap dengan senjata api gelap diancam denda sampai USD280.000, sampai 14 tahun di penjara dan catatan kriminal.
 
Keenan mengatakan di antara lebih banyak senjata api jenis tidak biasa yang diserahkan dalam dua bulan terakhir adalah pistol revolver Beaumont Adams buatan sekitar tahun 1856, senapan bekas perang dunia pertama Lee Enfield, dan dua karabin M1 buatan Amerika sisa perang dunia kedua.
 
Amnesti 2017 menjadi amnesti senjata nasional pertama sejak 1996, ketika pemerintah Howard menanggapi pembantaian Port Arthur dengan mengizinkan pemilik senjata api ilegal menyerahkan senjata tanpa diberi hukuman.
 
Penembakan Port Arthur pada April 1996 berakhir dengan kematian 35 orang di lokasi wisata populer di Tasmania. Pria bersenjata  Martin Bryant dikenai 35 kali lipat hukuman seumur hidup.



(FJR)