PBB: Pengungsi dari Rakhine Kelaparan dan Butuh Bantuan Medis

Willy Haryono    •    Selasa, 05 Sep 2017 15:10 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
PBB: Pengungsi dari Rakhine Kelaparan dan Butuh Bantuan Medis
Sejumlah pengungsi Rohingya menaiki kendaraan bak terbuka dekat kamp Kutupalong, Bangladesh, 3 September 2017 . (Foto: AFP/JASMIN RUMI)

Metrotvnews.com, Cox's Bazar: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut situasi di Rakhine sebagai "krisis" mengkhawatirkan, di mana sekitar 87 ribu wanita dan anak-anak melarikan diri menuju Bangladesh sejak kekerasan antar militan Rohingya dengan pasukan Myanmar meletus pada 25 Agustus.

Sejumlah kamp pengungsian di Bangladesh yang didirikan di era 1990-an dibanjiri pendatang baru. Agensi pengungsian PBB (UNHCR) meminta Bangladesh dan negara lainnya membuka perbatasan untuk pengungsi asal Rakhine, yang sebagian besarnya adalah Muslim Rohingya. 

Salah satu kamp itu adalah Kutupalong, yang saat ini dipadati sekitar 20 ribu pengungsi. 

"Banyak dari pengungsi kelaparan, fisiknya lemah dan butuh dukungan medis untuk menyelamatkan nyawa mereka," tutur UNHCR. 

UNHCR berusaha membantu dengan mendirikan beberapa tenda dari terpal, meski itu pun masih jauh dari cukup.

"Kutupalong sudah kelebihan kapasitas. Setiap keluarga menerima pendatang baru. Setiap tempat tersedia sudah terisi. Saya tidak yakin bagaimana kami bisa menangani semua ini," ujar Mohammad Abul Kalam, komisioner UNHCR di Cox's Bazar, Bangladesh, seperti dikutip Asian Correspondent, Selasa 5 September 2017. 

Saat ini UNHCR bekerja sama dengan otoritas lokal untuk mendata para pendatang baru dari Rakhine. 


Muslim Rohingya menunaikan salat Idul Adha di kamp Kutupalong. (Foto: AFP)

Pengungsi Membludak

Agensi PBB lainnya, World Food Program (WFP), dilaporkan tengah mendistribusikan biskuit energi dan makanan sehat kepada para pendatang baru di Bangladesh. 

WFP menyebut pada Sabtu kemarin bahwa pihaknya terpaksa menunda distribusi makanan ke Rakhine pekan lalu atas "situasi keamanan."

Saat ini Bangladesh telah membatasi akses masuk para pengungsi karena jumlahnya sudah membludak. Namun UNHCR mendesak Dhaka untuk tetap membuka perbatasannya karena para pengungsi dari Rakhine hanya ingin bertahan hidup di tengah operasi militer. 

"Bangladesh harus membuka perbatasannya untuk pengungsi dan berkoordinasi dengan sejumlah grup kemanusiaan dalam mempersiapkan diri menyambut gelombang berikutnya," tutur CEO dari Fortify Rights, Matthew Smith, Jumat kemarin. 

"Sangat penting bagi Bangladesh untuk membuka pintunya agar tidak ada lagi nyawa pengungsi yang melayang," lanjut dia.

Sementara itu, Indonesia telah mengambil langkah cepat dalam membantu menyelesaikan krisis di Rakhine. Presiden Joko Widodo mengutus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk berdiskusi dengan pihak terkait, termasuk pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi.

Setelah berbincang-boncang dengan Suu Kyi di Naypyidaw pada 4 September, hari ini Menlu Retno bertolak ke Bangladesh untuk bertemu Perdana Menteri Syekh Hasina dan Menlu Abul Hassan Mahmood Ali.

 


(WIL)