TKI Meninggal di Jepang adalah Pencari Suaka

Sonya Michaella    •    Senin, 09 Apr 2018 17:10 WIB
perlindungan wni
TKI Meninggal di Jepang adalah Pencari Suaka
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhamad Iqbal. (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi bahwa Aksioma Waruwu, TKI yang meninggal di Jepang adalah seorang pencari suaka.
 
(Baca: Sempat Tertahan, Jenazah TKI Dipulangkan dari Jepang).
 
Aksioma asal Nias Selatan meninggal pada Senin pekan lalu karena sakit setelah sebelumnya mengalami koma.
 
"Betul dia adalah pencari suaka. Tapi belum diketahui sejak tahun berapa di Jepang karena dia pergi dengan visa turis," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhamad Iqbal kepada Medcom.id, di Jakarta, Senin 9 April 2018.
 
Jenazah Aksioma rencananya akan dipulangkan pada Rabu pekan ini dan sedang dipersiapkan keperluannya. Sempat tertahan karena dana, pemulangan jenazah ini berasal dari pengumpulan uang WNI dan KBRI Tokyo atas inisiasi KBRI.
 
Hingga saat ini, eksodus WNI untuk mencari suaka ke Jepang terbilang cukup tinggi. Mereka sengaja menggunakan cara ini untuk bisa bekerja di Negeri Matahari Terbit tersebut.
 
Pasalnya, untuk bisa bekerja di Jepang bagi para warga asing tidaklah mudah. Mereka harus melewati serangkaian pelatihan dan ujian, termasuk keahlian tertentu dan fasih berbahasa Jepang.
 
Iqbal menjelaskan, penggunaan E-Paspor dan bebas visa ke Jepang menjadi satu-satunya jalan para WNI tersebut untuk pergi ke Jepang.
 
"Dengan adanya E Paspor dan ke Jepang itu bebas visa, mereka mempunyai banyak kesempatan untuk mendaftar menjadi pencari suaka di sana. Tapi Jepang tidak mau menerima karena Indonesia bukan negara konflik," tambahnya.
 
Menurut data yang diberikan Iqbal, WNI yang mencari suaka hingga April 2018 mencapai 4 ribu orang. Di 2015 terhitung 969 ribu, pada 2016 terhitung 1.829 dan di akhir 2017 berjumlah 1.342 orang.
 
Sementara jumlah WNI yang berada di Jepang kini sebesar 47 ribu orang, yang terdiri dari pekerja magang (21 ribu), permanent resident (enam ribu), mahasiswa (lima ribu) dan sisanya adalah WNI yang menikah dengan warga Jepang dan lain-lain.


(FJR)