Hadapi Propaganda ISIS di Internet, Australia Terapkan PIP

Willy Haryono    •    Rabu, 19 Jul 2017 13:05 WIB
isisindonesia-australia
Hadapi Propaganda ISIS di Internet, Australia Terapkan PIP
Ahmed Fahour, utusan Australia untuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) (Foto: Willy Haryono/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Hal paling berbahaya dari sebuah kelompok teroris, seperti Islamic State (ISIS), adalah ideologi ekstrem. 
 
ISIS hanya perlu menyebar ideologi menyimpangnya ke internet, dan seluruh orang di dunia dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin terpengaruh, sebagian lain tidak. 
Penyebaran propaganda ekstrem ini menjadi tantangan nyata bagi banyak negara. Setelah terpapar propaganda semacam itu, seorang simpatisan dapat melancarkan aksi teror tanpa perlu mendapat perintah langsung. Serangan teror yang dilakukan seorang diri ini disebut dengan lone wolf attack
 
Pemerintah Australia menerapkan strategi khusus dalam menghadapi propaganda ekstrem di internet. "PIP. Prevent, Interject dan Prosecute," ucap utusan Australia untuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Ahmed Fahour di Pesantren Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan, Rabu 19 Juli 2017. 
 
Ahmed menjelaskan prosedur pertama yang dilakukan pemerintah Australia dalam menghadapi propaganda adalah mencegahnya. Pencegahan dapat dilakukan dalam arti menutup celah agar propaganda itu tidak muncul, atau mencegah seseorang mengaksesnya. 
 
Poin kedua adalah mengintervensi, semisal dengan melakukan dialog di level masyarakat kepada sejumlah individu yang diyakini telah terpapar konten radikal. Di level ini, perlu dipahami mengapa orang-orang tersebut bisa begitu marah sehingga ingin melancarkan aksi teror.
 
Orang-orang semacam itu, kata Ahmed, perlu dirangkul dan diyakinkan untuk kembali ke jalan yang benar dengan "cinta."
 
"Keluarga memainkan peranan penting dalam hal ini. Jangan sampai ada anggota keluarga yang merasa terasingkan. Orang-orang seperti itu harus dirangkul sehingga merasa memiliki, belong to the world," ungkap Ahmed. 
 
"Peran keluarga nomor satu, pemerintah baru setelah itu. Saya mendorong keluarga-keluarga di luar sana untuk merangkul anggotanya yang diduga terkena radikalisasi," lanjut dia.
 
Jika kedua poin itu gagal, maka langkah terakhir yang diambil pemerintah Australia adalah prosecute, atau menyeret pelaku teror ke jalur hukum. 
 
"Tapi saya tegaskan sekali lagi, para pelaku teror (yang mengatasnamakan Islam) ini hanya minoritas. Mayoritas Muslim adalah orang-orang baik," kata Ahmed.



(FJR)