Pengawasan Ketat Dilakukan oleh Imigrasi Terhadap Pencari Suaka

Sonya Michaella    •    Selasa, 08 Aug 2017 14:04 WIB
imigran gelap
Pengawasan Ketat Dilakukan oleh Imigrasi Terhadap Pencari Suaka
Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI, Ronny F. Sompie (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Meluapnya pencari suaka dan pengungsi dari negara konflik yang transit di Indonesia masih menjadi polemik hingga saat ini. Banyak yang mengatakan, pemerintah dan lembaga-lembaga terkait tak serius untuk menangani kasus ini.
 
Padahal, UNHCR dan Internatioanal Organization of Migration (IOM) selalu bekerja sama dengan Indonesian untuk mencarikan negara ketiga bagi para pengungsi dan pencari suaka tersebut.
 
Diketahui, ratusan dari mereka masih terlunta-lunta di Indonesia. Bahkan, beberapa dari mereka tidak mempunyai tempat tinggal dan terpaksa tidur di jalanan, salah satunya di depan Menara Ravindo, kawasan Kebon Sirih, Jakarta, yang menjadi kantor perwakilan UNHCR di Indonesia. 
 
Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI, Ronny F. Sompie mengatakan bahwa pihak imigrasi pun melakukan pengawasan terhadap adanya pencari suaka dan pengungsi di Jakarta.
 
"Perlu diingat, Indonesia bukanlah negara ketiga melainkan hanya negara transit. Pemerintah dengan UNHCR dan IOM juga terus melakukan upaya pencarian negara ketiga bagi mereka," ungkap Ronny, di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa 8 Agustus 2017.
 
"Sementara ini, kita punya Perpres 125 tahun 2016 yang mengatur peran masing-masing kementerian dan lembaga bagi penanganan pengungsi yang masuk ke Indonesia," lanjut dia.
 
Ronny menambahkan, pihak imigrasi melakukan pengawasan terhadap kasus ini. Kedatangan mereka diatur Bakamla dan selanjutnya akan diserahkan ke tempat penampungan.
 
"Verifikasi registrasi baru ini diatur oleh UNHCR dan biaya seperti kesehatan dan tempat tinggal diatur oleh IOM. Pihak imigrasi memantau mereka lewat rumah detensi untuk memastikan mereka tetap menaati peraturan Indonesia," ungkap Ronny lagi.
 
Soal lambat dan cepatnya pencarian negara ketiga, menurut Ronny, hal tersebut tergantung pada verifikasi dari negara ketiga itu sendiri.
 
"Untuk penerimaan pencari suaka dan pengungsi itu sepenuhnya hak dari negara tujuan. Indonesia, sebagai negara transit hanya bisa mencarikan dan mendaftarkan data-data mereka," pungkas dia.



(FJR)