Parlemen Bangladesh Curhat Banyaknya Arus Masuk Pengungsi Rakhine

Raiza Andini    •    Jumat, 08 Sep 2017 09:38 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Parlemen Bangladesh Curhat Banyaknya Arus Masuk Pengungsi Rakhine
Bocah pengungsi dari wilayah Rakhine berupaya menyeberang ke Bangladesh (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Nusa Dua: Delegasi dari parlemen Bangladesh curhat di forum pertemuan parlemen dunia terkait ratusan pengungsi Rakhine di negaranya dan mengutuk perbuatan Myanmar terhadap sipil di Rakhine State.
 
Anggota parlemen Bangladesh Muzammel Haque memaparkan bahwa Bangladesh mengaku kesulitan menampung banyaknya pengungsi etnis Rohingya yang saat ini jumlahnya sudah ratusan ribu jiwa. Dia meminta agar seluruh parlement di dunia untuk dapat memberikan perhatian penuh kepada permasalahan Rakhine State.
 
"Negara kami sudah tidak sanggup lagi menampung para pengungsi. Kami cukup kesulitan menghadapi ini," ungkap Muzammel di sela-sela diskusi panel World Parliamentary Forum yang berlangsung di BNDCC, Nusa Dua, Kamis 7 September 2017.
 
Dia berharap dunia merespon dan memberikan perhatian penuh kepada negara-negara yang menjadi penampungan sementara etnis Rohingya dan meminta Myanmar untuk menghentikan pembantaian sipil di Rakhine State. 
 
"Sampai kapan mereka akan menderita? Kamipun cukup menderita," ujarnya.
 
Menurutnya, langkah WPF dalam menanggapi konflik di Myanmar dinilai cukup bagus sebab aksi kekerasan tersebut bukan hanya sebagai isu politik dalam negeri Myanmar saja tetapi sudah masuk dalam pelanggaran HAM.
 
"Ini harus dihentikan secepatnya," tutupnya.
 
Indonesia siap bantu Bangladesh
 
Dalam pertemuan Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi dengan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina dan Menlu Abul Hasan Mahmood Ali, Indonesia menegaskan akan memberikan bantuan kepada Bangladesh untuk menangani luapan pengungsi Rakhine.
 
 
Dalam pertemuan Selasa 5 September 2017 di Dhaka, Menlu menyebutkan pertama Indonesia dapat informasi mengenai kondisi di lapangan dan juga tantangan yang dihadapi di lapangan. Ini termasuk tempat di mana saat ini para pengungsi berada yang mayoritas tentu saja berada di wilayah perbatasan Myanmar-Bangladesh.
 
Kedua Indonesia juga menyampaikan simpati pada Pemerintah Bangladesh yang memiliki beban cukup besar. Karena jumlah pengungsi yang diterima cukup banyak. 
 
"Oleh karena itu, saya bawa amanah dari Presiden bahwa Indonesia menawarkan dukungannya dan kontribusi kepada Pemerintah Bangladesh, untuk mengurangi beban dalam menangani krisis kemanusiaan ini," tegas Menlu saat itu.
 
Selama di Bangladesh, Menlu Retno sempat pula melakukan pertemuan dengan perwakilan Organisasi Imigran Internasional/International Organization for Migration (IOM) dan Lembaga PBB yang mengurus pengungsi, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) yang berada di Bangladesh. Pertemuan dilakukan untuk membahas bantuan apa yang bisa diberikan kepada Bangladesh.
 
PM Bangladesh Sheikh Hasina pun menanggapi positif inisiatif Indonesia. "Alhamdulilah PM Bangladesh menerima dengan baik, niat baik pemerintah dan Presiden RI untuk terus mendukung dalam penanganan masalah pengungsi (Rakhine yang berada) di wilayah Bangladesh. 
 
Sementara Menlu Retno menambahkan, detail dukungan yang akan Indonesia kontribusikan akan di-follow up Dubes RI untuk Dhaka dengan kemenlu dan Kementerian Bangladesh terkait lain yang menangani isu pengungsi ini.

 

 
(FJR)