Militan ARSA Rohingya Kalah Secara Persenjataan di Rakhine

Arpan Rahman    •    Kamis, 07 Sep 2017 06:57 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Militan ARSA Rohingya Kalah Secara Persenjataan di Rakhine
Prajurit Myanmar bersiaga di Rakhine. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Rakhine: Petani yang berubah menjadi pemberontak, Ala Uddin, meninggalkan kelompok militan Muslim Rohingya yang memerangi tentara Myanmar. Dia pergi karena menyadari kelompoknya hanya dipersenjatai dengan tongkat dan parang.

Dituding sebagai imigran asing, Tentara Pembebasan Arakan Rohingya (ARSA) tumbuh secara signifikan sejak tahun lalu. Itu terjadi meski mereka kalah secara persenjataan dari salah satu kekuatan militer terbesar di Asia.

"Saya tidak ingin anak-anak saya menjadi yatim piatu," kata pria berusia 27 tahun kepada AFP, pekan ini, dari sebuah kamp pengungsi di Bangladesh. Ia menjelaskan mengapa dia meninggalkan grup tersebut dua pekan lalu.

"Mereka memberi pentungan, parang, dan dua senjata api untuk hampir 100 orang yang direkrut. Saya sadar saya akan mati jika saya berperang hanya dengan sepotong kayu," kata Uddin, yang hanya nom de guerre (nama samaran).

Lebih dikenal secara lokal sebagai Harakah al-Yaqin (Gerakan Iman), ARSA terlibat pertempuran yang tidak berimbang, seperti anak kecil melawan raksasa.

ARSA memperlihatkan kemunculannya Oktober lalu, lewat penyergapan mematikan ke pos-pos perbatasan Myanmar di Rakhine. Lokasi itu telah lama menjadi tempat ketegangan konflik sektarian.

Tentara Myanmar -- Tatmadaw -- menanggapi serangan itu dengan operasi besar-besaran.

Eksodus dari Rakhine

Lebih dari 200.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak bulan Oktober. Mereka membawa pengakuan adanya sejumlah pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran desa-desa oleh tangan militer.

Eksodus pengungsi baru-baru ini dipicu serangkaian serangan terkoordinasi malam hari oleh gerilyawan ARSA pada 25 Agustus.

Analis mengatakan penyergapan tersebut, yang menyerang lebih dari 30 pos, merupakan kegagalan taktis -- militan tampaknya menderita banyak korban dan tidak berhasil menjarah banyak senjata.

Tapi mereka menunjukkan bahwa jumlah personel ARSA telah membesar, yang terjadi lewat respons brutal militer Myanmar.

Kelompok tersebut "telah menunjukkan peningkatan kapasitas yang signifikan untuk mengkoordinasikan operasi di wilayah yang luas, dan sekarang dapat memobilisasi jumlah pejuang yang jauh lebih besar," Anthony Davis, pakar keamanan regional di Jane's IHS Markit, mengatakan kepada AFP.

"Operasi keras yang dilakukan Tatmadaw sejak Oktober tampaknya semakin memperkuat pemberontakan rakyat," lanjut dia.




(WIL)