Myanmar akan Diminta Jelaskan Krisis Rakhine kepada ASEAN

Marcheilla Ariesta    •    Senin, 11 Sep 2017 22:37 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Myanmar akan Diminta Jelaskan Krisis Rakhine kepada ASEAN
Menlu Retno Marsudi. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri luar negeri se-ASEAN dijadwalkan berkumpul pada 23 September 2017 di New York, Amerika Serikat (AS). Mereka akan membahas isu krisis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine, Myanmar.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyampaikan hal tersebut dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi I DPR RI.

"Jadi kita sudah jadwalkan pertemuan Menlu ASEAN akan dilakukan pada 23 September di sela-sela UNGA," ujar Menlu Retno, Jakarta, Senin 11 September 2017, merujuk pada Sidang Umum PBB.

Sebelumnya, Menlu Retno telah menghubungi para menteri negara-negara anggota ASEAN dan membahas bantuan kemanusiaan untuk masyarakat etnis Rohingya di Rakhine. Dalam pertemuannya dengan State Counsellor Aung San Suu Kyi, Retno meminta akses penyaluran bantuan kemanusiaan juga diberikan kepada negara anggota ASEAN.

Hal tersebut disambut baik Suu Kyi. Meski demikian, mekanisme disalurkannya akses bantuan kemanusiaan masih belum dibahas. Menlu Retno segera menelepon National Advisor mempertanyakan mengenai mekanisme tersebut.

Baca: KAHMI Minta Pemerintah RI Bantu Masalah Kewarganegaraan Rohingya

Sementara itu, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Jose Tavares menuturkan para anggota ASEAN sudah mengirimkan bantuannya masing-masing. Karenanya, saat ini mereka tengah mengupayakan agar bantuan bisa terkumpul dan diberikan bersama-sama ke Myanmar, yang juga salah satu anggota ASEAN.

"Kita kumpulkan semua (bantuan) dulu dan prosesnya agak lama karena harus mengumpulkan satu per satu. Karena lama ini, negara-negara anggota ASEAN lain mengirimkannya sendiri-sendiri," seru Jose.

Jose menjelaskan dalam pertemuan di sela-sela Sidang Umum PBB nanti, Myanmar akan diminta untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada rekan-rekan ASEAN lainnya. Dari situ, baru akan dibahas mengenai bantuan kemanusiaan.

Pendekatan diplomasi yang dilakukan Indonesia dalam krisis Rakhine diapresiasi tak hanya di dalam negeri, namun juga luar negeri. Pendekatan inklusif ini yang membuat Indonesia menjadi salah satu negara dipercaya Myanmar dan boleh masuk untuk memberikan bantuan kemanusiaan.




(WIL)