Peduli Rohingya, Massa Gelar Salat Jumat di Depan Kedubes Myanmar

Sonya Michaella    •    Jumat, 25 Nov 2016 10:53 WIB
konflik myanmar
Peduli Rohingya, Massa Gelar Salat Jumat di Depan Kedubes Myanmar
Kapolda Irjenpol M. Iriawan di depan Kedubes Myanmar (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kapolda Irjen M. Iriawan membenarkan bahwa akan ada gelaran salat Jumat yang diselenggarakan di depan Kedutaan Besar Myanmar di kawasan Menteng, Jakarta.
 
"Rencananya ada 2.000 massa, nanti yang disiagakan. Itu gabungan semua. Untuk saat ini, baru sekitar 300," kata Iriawan ketika ditemui di depan Kedubes Myanmar, Jakarta, Jumat (25/11/2016).
 
Setelah salat Jumat di depan Kedubes, mereka akan long march ke depan kantor perwakilan PBB di Jakarta. Mereka menuntut agar dunia intenasional peka dan bergerak dalam mengatasi pembantaian Rohingya di Rakhine, Myanmar.


Massa pendemo di Kedubes Myanmar (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).
 
 
"Gabungannya ya semua, dari mahasiswa. Ada ormas Islam juga. Kami sudah bersiaga," tegas Iriawan lagi.
 
Sementara itu, saat ini masih berlangsung orasi dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun. Koordinator unjuk rasa, Mohamad Syukur Mandar menuntut agar pemerintah Myanmar menghentikan aksi pembantaian terhadap Rohingya.
 
"Kami menuntut agar pemerintah Myanmar menghentikan kekerasan tersebut. Kami juga mendesak agar pemerintahan Jokowi-JK untuk peka terhadap masalah ini," ucapnya kepada Metrotvnews.com.
Syukur mengatakan bahwa mereka sedang menunggu rekan-rekan yang lain untuk bergabung berunjuk rasa di depan Kedubes dan setelah itu melakukan salat Jumat bersama.
 
"Mereka kumpul di Cut Meutia, setelah itu ke sini. Habis salat Jumat, kami akan bergerak ke kantor PBB di bundaran HI," ucapnya.
 
Suu Kyi dalam sorotan
 
Tokoh nomor satu di Myanmar Aung San Suu Kyi masih bungkam terkait aksi kekerasan militer terhadap Muslim Rohingya di wilayah Rakhine. Bungkamnya Suu Kyi diikuti gelombang kritik dari sejumlah lembaga hak asasi manusia.
 
Laporan Human Rights Watch (HRW) menunjukkan sebanyak 1.250 rumah warga Rohingya di lima desa di Rakhine rata dengan tanah akibat hancur terbakar atau ambruk karena serangan militer. (Baca: Bungkam soal Pembantaian Rohingya, Suu Kyi Dikecam). 
 
Sementara lebih dari 100 Muslim Rohingya tewas dan 30 ribu lainnya melarikan diri akibat serangan ini. Muslim Rohingya pun berusaha menyeberang ke perbatasan Bangladesh, namun dicegat dan ditembaki militer Myanmar.
 
Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk penerapan HAM di Myanmar, Yanghee Lee, mengkritik sikap Suu Kyi terhadap krisis di negaranya. Ia menuntut adanya investigasi terkait tudingan aksi pembantaian warga Rohingya oleh militer Myanmar. 
 
Lee menngatakan bahwa Aung San Suu Kyi, menyatakan Pemerintah Myanmar merespons situasi ini berdasarkan hukum yang berlaku. Namun, dirinya tidak melihat adanya upaya dari sisi pemerintah untuk menyelidiki soal tuduhan pelanggaran HAM dalam kejadian ini.
 
Lee mendesak pemerintah Suu Kyi segera bertindak dan melindungi warga sipil Rohingya. Lee juga menyesalkan tindakan pembantaian dilakukan aparat militer Myanmar.

 

 


(FJR)