Sosok Duterte dan Dampaknya Bagi Laut China Selatan

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 31 Oct 2017 14:32 WIB
laut china selatan
Sosok Duterte dan Dampaknya Bagi Laut China Selatan
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kemeja putih depan, memegang senjata) saat menerima pasokan senjata dari Rusia (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepemimpinan Presiden Filipina Rodrigo Duterte membuat bingung banyak pihak dan sekutu. Tiba-tiba menjauh dari Amerika Serikat (AS) dan kemudian mendekati Tiongkok menimbulkan pertanyaan di benak banyak pihak.
 
Padahal, sebelumnya Filipina berselisih dengan Tiongkok lantaran kasus sengketa wilayah di Laut China Selatan. Filipina sampai membawa kasus ini ke Pengadilan Tetap Arbitrase (PCA) dan sudah dikeluarkan juga putusan tetapnya.
 
 
Profesor Aileen Baviera dari University of the Philippines menuturkan sejak kepemimpinan Duterte di Filipina ada perubahan kepentingan Tiongkok di Laut China Selatan. 
 
"Sudah sejak 16 bulan pasca perubahan pemerintah, ada perubahaan di Laut China Selatan, kepentingan Tiongkok di sana melibatkan komunikasi multilateral," ujar Aileen, saat ditemui dalam seminar 'Geopolitical and Legal Development Post Permanent Court of Arbitration Award on South China Sea Dispute', di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa 31 Oktober 2017.
 
Menurutnya, banyak hal yang terjadi dengan 'kehadiran' Tiongkok dalam pemerintahan di Manila. Namun, Aileen menegaskan Filipina tidak menyerah atas kedaulatan mereka di Laut China Selatan.
 
"Posisi pemerintah tetap, Filipina tidak menyerah atas kedaulatannya di Laut China Selatan. Hanya menunggu satu saat yang tepat dan isu mengenai sengketa di wilayah itu diangkat kembali," jelasnya.
 
Dia menambahkan, di saat yang tepat itu, Duterte akan berdiskusi dengan Tiongkok. Dan untuk mendapat saat yang tepat tersebut, pemerintah Filipina berniat membangun relasi baik dengan Beijing.
 
"Presiden menyatakan dia akan berdiskusi dengan Tiongkok, namun tidak untuk saat ini. Sekarang, mereka tengah mencoba untuk meng-improve relasi politik kedua negara," imbuhnya.
 
Sementara itu, untuk hubungan Filipina dengan Amerika Serikat (AS), masih terbilang kuat, malah menurut dia semakin solid. Aileen menuturkan kerja sama militer dan ekonomi terus terjalin di antara dua negara.
 
Baginya, Duterte memberikan dampak baru bagi perkembangan hubungan Filipina dengan sekutu-sekutu terbaru. Dan menurutnya, mantan wali kota Davao itu akan membawa Filipina bergerak ke arah yang baru.
 
"Kita tunggu saja," kata dia.
 
Aileen mengakui ASEAN sendiri masih memiliki tantangan besar yang belum terselesaikan sejak 50 tahun lalu. Menurut dia, ASEAN masih belum solid dan satu suara.
 
"Sentralitas menjadi tantangan ASEAN yang tidak ada perkembangannya sejak dulu," tutupnya.
 
Pengadilan Arbitrase Permanen atau PCA di Den Haag, Belanda, akhirnya mengeluarkan putusan mengenai gugatan Filipina terhadap Tiongkok atas sengketa perairan Laut China Selatan, 12 Juli 2016 lalu.
 
 
PCA menolak mengakui klaim Tiongkok atas sembilan garis putus di Laut China Selatan. Selama ini, Negeri Tirai Bambu menegaskan nine-dash line atau sembilan garis putus merupakan wilayah peninggalan leluhurnya, yang tercantum dalam peta versi mereka sendiri pada 1947. 
 
Filipina menantang klaim Tiongkok ke Den Haag pada 2013. Filipina menyebut Tiongkok telah melanggar perjanjian United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) terkait klaim di perairan strategis ini.



(FJR)