Wadubes Filipina Tidak Bisa Verifikasi Penangkapan WNI di Marawi

Sonya Michaella    •    Kamis, 02 Nov 2017 12:38 WIB
wniterorisme di filipina
Wadubes Filipina Tidak Bisa Verifikasi Penangkapan WNI di Marawi
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di Kemenlu RI (Foto: Fajar Nugraha/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Luar Negeri RI memanggil Kuasa Usaha (Wakil Duta Besar) Kedutaan Besar Filipina untuk menjelaskan dan memberikan informasi terkait ditangkapnya Warga Negara Indonesia (WNI) terduga teroris di Marawi, kemarin.
 
 
Namun, Kuasa Usaha Kedubes Filipina tak bisa memberikan konfirmasi pasti terkait hal ini, pun pihak polisi Filipina dan Angkatan Bersenjata Filipina.
 
"Sampai pagi ini, KBRI Manila maupun KJRI Davao belum mendapatkan notifikasi konsuler resmi dari Filipina terkait WNI terduga militan ditangkap. Hanya informasi formal yang kita dapat," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di Kemenlu RI, Jakarta, Kamis 2 November 2017.
 
Arrmanatha menuturkan, pertama kali KBRI Manila dan KJRI Davao mendengar kabar tersebut dari media dan mereka langsung meminta konfirmasi dari Filipina.
 
"Dari Filipina tidak ada yang bisa memberikan informasi resmi. KBRI Manila terus meminta konfirmasi resmi sampai saat ini," ungkap Arrmanatha.
 
Jika sudah mendapatkan konfirmasi resmi atau notifikasi konsuler, baru KBRI Manila dan KJRI Davao dapat meminta akses konsuler untuk verifikasi lewat interview atau data-data, misalnya paspor.
 
"Kita cek keaslian paspor, baru KBRI bisa memutuskan itu WNI atau bukan. Tapi untuk sekarang, kita belum sampai pada tahap itu," tegas Arrmanatha.
 
 
Sementara berdasarkan keterangan dari Kepala Polisi wilayah Lanao del Sur, John Guyguyon dalam konferensi persnya Rabu 1 November menyebutkan, bahwa nama terduga WNI tersebut adalah Muhammad Ilham Syahputra.
 
Guyguyon menyatakan bahwa dia masuk ke Filipina pada November 2016 dan diajak oleh kelompok Isnilon Hapilon yang bersama Maute menguasai wilayah Marawi.
 
Isnilon Hapilon dan Omar Maute, keduanya merupakan pemimpin kelompok Maute, dikabarkan tewas dibunuh pekan lalu. Mahmud Ahmad dari Malaysia, yang diduga mendanai para militan ini, juga dikabarkan tewas.



(FJR)