Kabut Beracun Mengubah New Delhi Seperti Kamar Gas

Arpan Rahman    •    Rabu, 08 Nov 2017 19:15 WIB
india
Kabut Beracun Mengubah New Delhi Seperti Kamar Gas
Anak kecil di tengah kabut asap yang meliputi India (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, New Delhi: Kabut beracun yang menyelimuti New Delhi sangat parah, pada Selasa 7 November. Segera para politisi mengumumkan rencana untuk menutup sekolah, menunda penerbangan. Menteri utama negara bagian Delhi mengatakan bahwa kota tersebut berubah "menjadi kamar gas".
 
Bagi Arvind Kumar, ahli bedah, situasinya menambah krisis kesehatan di kawasan ini. "Saya tidak melihat paru-paru sehat, bahkan di antara orang muda yang tidak merokok," katanya. "Kualitas udara telah menjadi sangat buruk sehingga bahkan jika Anda bukan perokok, Anda bisa menderita," bubuhnya, seperti dikutip Boston Globe, Rabu 8 November 2017.
 
 
Kabut tebal dan sangit bukanlah hal baru di Delhi, di mana zat itu mengendap sepanjang waktu setiap tahun, menutupi ibukota dalam emisi kendaraan dan asap dari pembakaran tanaman di negara-negara tetangga dan dari kembang api dari Diwali, festival cahaya ala Hindu. Namun dalam beberapa tahun terakhir, masalahnya nampaknya telah memburuk.
 
Pada Selasa, tingkat partikel udara paling berbahaya, yang disebut PM 2.5, mencapai lebih dari 700 mikrogram per meter kubik di beberapa bagian kota, menurut data dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS). Para ahli mengatakan bahwa paparan yang berkepanjangan terhadap konsentrasi tinggi PM 2.5 setara dengan merokok lebih dari dua bungkus sehari.
 
Para pejabat sudah berjuang untuk mengendalikan polusi di Wilayah Ibu Kota Nasional (NCR), yang meliputi Delhi dan merupakan hunian bagi lebih dari 45 juta orang. Larangan penjualan petasan sebelum Diwali pada Oktober tampaknya memendam masalah tersebut. Namun pembakaran lahan secara ilegal, yang berkontribusi secara signifikan terhadap polusi pada saat ini, baru saja dimulai.
 
Situasi tersebut mendorong menteri negara, Arvind Kejriwal, untuk mencuit di Twitter: "Delhi telah menjadi kamar gas. Setiap tahun ini terjadi sepanjang tahun ini. Kita harus menemukan solsui untuk membakar lahan di negara-negara tetangga."
 
Imran Hussain, menteri lingkungan Delhi, menulis di Twitter pada Agustus bahwa dia telah menulis surat kepada pejabat di negara bagian Haryana, Punjab, Rajasthan, dan Uttar Pradesh yang meminta pengurangan kebakaran lahan pertanian. Namun tidak ada tindakan yang dilakukan, juru bicara pemerintah berkata di Twitter, pada Selasa 7 November.
 
Kebakaran, yang dikombinasikan dengan knalpot mobil, emisi cerobong asap, dan pembakaran sampah, berkontribusi pada tingkat polusi yang sering terjadi pada kategori "parah", tingkat tertinggi yang ditunjuk oleh Badan Pengawas Polusi Pusat (CPCB).
 
 
Sebuah artikel bulan lalu di jurnal medis The Lancet mengatakan polusi bertanggung jawab atas hingga 2,5 juta kematian di India pada 2015, lebih banyak daripada di negara lain.
 
Manish Sisodia, wakil kepala menteri Delhi, mengatakan "semua opsi" guna mengurangi polusi sedang dipertimbangkan. Pemerintah telah mengusulkan untuk memperkenalkan kembali alternatif pembatasan hari untuk penggunaan mobil pribadi, dan memakai helikopter buat menyiramkan air demi membantu membersihkan udara.
 
Pada konferensi pers, Selasa malam, Sisodia mengumumkan bahwa sekolah dasar akan ditutup pada Rabu, dan mungkin lebih lama. Tahun lalu, pemerintah untuk sementara menutup lebih dari 1.800 sekolah menyusul serangkaian hari yang tercemar kabut asap.
 
Dr Sarath K. Guttikunda, spesialis pencemaran udara dan direktur kelompok penelitian independen Urban Emissions, mengatakan bahwa menjaga agar anak-anak di rumah dapat mengurangi paparan terhadap polusi udara, terutama di daerah di mana emisi kendaraan tinggi.
 
Tapi Kumar, ahli bedah, mengatakan bahwa dia tidak yakin dengan pendekatan pemerintah untuk membatasi polusi. Masalahnya akan berlanjut, tambahnya, kecuali penduduk kota memberi tekanan kolektif yang lebih besar pada politisi buat merancang solusi berkelanjutan.
 
"Pilihan untuk warga Delhi adalah tiga," kata Kumar. "Salah satunya adalah berhenti bernapas. Itu tidak mungkin. Yang kedua adalah keluar dari Delhi. Itu juga tidak mungkin. Yang ketiga adalah memberi hak untuk menghirup udara segar sebagai gerakan masyarakat," pungkasnya.



(FJR)