Erdogan Anggap Myanmar Lakukan Genosida Terhadap Etnis Rohingya

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 02 Sep 2017 10:56 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Erdogan Anggap Myanmar Lakukan Genosida Terhadap Etnis Rohingya
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebut Myanmar lakukan genosia (Foto: Sky News).

Metrotvnews.com, Ankara: Pernyataan keras keluar dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkait krisis di Myanmar. Menurut Erdogan, Myanmar sudah melakukan genosida terhadap etnis Rohingya.
 
Aksi kekerasan yang sudah terjadi selama sepekan itu, dikabarkan sudah menewaskan sekitar 400 militan Rohingya. 
 
"Telah terjadi genosida di sana. Mereka tetap diam terhadap ini. Semua yang melihat dari jauh genosida ini dilakukan di bawah kerudung demokrasi juga bagian dari pembunuhan massal ini," kata Erdogan, pada perayaan Idul Adha di Istanbul, Jumat 1 September, seperti dikutip AFP, Sabtu 2 September 2017.
 
 
Erdogan memang dikenal telah lama mengambil posisi kepemimpinan di antara komunitas Muslim dunia. Menurutnya sudah menjadi tanggung jawab moral Turki untuk mengambil sikap terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di Myanmar.
 
PBB menyebutkan, sekitar 38.000 orang Rohingya telah melintas ke Bangladesh dari Myanmar. Eksodur ini terjadi setelah militan Rohingya
menyerang pos-pos polisi dan sebuah pangkalan tentara di negara bagian Rakhine, yang mendorong bentrokan-bentrokan dan serangan balasan dari pihak militer.
 
Sudah sejak lama militer Myanmar mengatakan, akan melancarkan pembersihan terhadap teroris garis keras dan pasukan keamanan diberi pengarahan untuk melindungi warga. Namun, warga Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh mengatakan bahwa serangan dengan pembakaran dan pembunuhan bertujuan untuk memaksa mereka keluar.
 
Penanganan terhadap sekitar 1,1 juta Muslim Rohingya menjadi sebuah tantangan terbesar bagi Aung San Suu Kyi, yang telah mengutuk serangan tersebut dan memuji pasukan keamanan.
 
Peraih Nobel Perdamaian itu dituduh beberapa kritikus Barat karena tak bersuara terhadap pembantaian Muslim Rohingya oleh serangan brutal militer setelah terjadinya penyerangan Oktober.
 
Bentrokan dan tindak kekerasan yang dilakukan oleh tentara telah menewaskan sekitar 370 gerilyawan Rohingya, 13 aparat keamanan, dua pejabat pemerintah dan 14 warga sipil, kata militer Myanmar pada Kamis.
 
Sebagai perbandingan, kekerasan pada 2012 di Sittwe, ibu kota Rakhine, menyebabkan tewasnya hampir 200 orang dan sekitar 140.000 lagi mengungsi, kebanyakan dari mereka adalah warga Rohingya.
 
 
Serangan tersebut merupakan bentuk ekskalasi kekerasan dari kemelut yang terjadi sejak Oktober, ketika serangan serupa yang dilancarkan oleh militan Rohingya dengan ukuran yang jauh lebih kecil terhadap pos keamanan. Hal ini mendorong militer melakukan serangan balasan besar-besaran yang diduga disertai pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
 
Berdasarkan keterangan surat kabar New Global Light New Myanmar, lebih dari 150 militan Rohingya melakukan serangan terkini terhadap pasukan keamanan pada Kamis, di dekat desa-desa yang ditempati oleh masyarakat pengikut Hindu.
 
Pernyataan itu menambahkan bahwa sekitar 700 anggota keluarga di desa-desa tersebut telah diungsikan. Sekitar 20.000 lagi warga Rohingya yang berusaha melarikan diri, terjebak di daerah kosong perbatasan, kata sumber PBB. 
 
Pekerja bantuan di Bangladesh berjuang untuk meringankan penderitaan ribuan orang yang mengalami kelaparan dan trauma.
 
Sementara beberapa warga Rohingya mencoba menyeberang ke Bangladesh melalui darat, yang lain mencoba melakukan perjalanan berbahaya dengan menggunakan perahu, melintasi sungai Naf yang memisahkan kedua negara itu.
 
Presiden Erdogan menyatakan isu tersebut akan dibahas secara rinci ketika para pemimpin dunia mengadakan pertemuan dalam Sidang Umum PBB pada 12 September di New York.



(FJR)