Pertemuan Menlu ASEAN

Kerangka CoC Laut China Selatan Didukung Penuh Menlu ASEAN

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 05 Aug 2017 19:06 WIB
asean
Kerangka CoC Laut China Selatan Didukung Penuh Menlu ASEAN
Menlu Retno L.P Marsudi bersama Menlu Filipina Alan Peter Cayetano pada pertemuan Menlu ASEAN di Filipina (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Manila: Isu Laut China Selatan selalu mengikuti setiap pertemuan ASEAN. Pada pertemuan Menlu ASEAN di Manila, Filipina, kerangka Code of Conduct (CoC) Laut China Selatan mendapatkan dukungan penuh.

(Baca: ASEAN Harus Konsisten Menjadi Penggerak Perdamaian di Kawasan).
 
"Menteri-menteri luar negari ASEAN mendukung kerangka dari Code of Conduct (COC) Laut China Selatan, meskipun Pemerintah Filipina berulangkali meminta agar bisa dijadikan dokumen yang mengikat secara hukum," pernyataan Kementerian Luar Negeri Filipina, seperti dikutip Manila Times, Sabtu 5 Agustus 2017.
 
Pertemuan Menlu ASEAN (AMM) ini, ditujukan untuk membahas dan mengatasi isu politik dan keamanan di kawasan. Selain juga membahas isu-isu lain mengenai masyarakat ASEAN.
 
Juru Bicara Kemenlu Filipina Robespierre Bolivar mengatakan, kerangka ini didukung untuk diadopsi dalam pertemuan ASEAN-China pada Minggu 6 Agustus 2017.
 
"Benar bahwa para menlu mendukung kerangka COC untuk diadopsi pada pertemuan Menteri ASEAN-China pada 6 Agustus," tegas Bolivar.
 
Namun Bolivar menolak untuk memberikan detail lebih lanjut mengenai dukungan ini, tetapi dia mengingatkan kembali bahwa Filipina tetap mendukung agar kerangka ini bisa mengikat secara hukum. 
 
Filipina, bersama negara ASEAN lain seperti Malaysia, Brunei Darusasalam, Vietnam saling mengklaim wilayah Laut China Selatan dengan China. Beberapa kali terjadi konflik antara Filipina dan China terkait batas wilayah Laut China Selatan.
 
Negosiasi untuk COC sendiri sudah berjalan selama 15 tahun. ASEAN dan China sebelumnya sudah mengadopsi Declaration of Conduct (DOC) yang tidak mengikat pada 202 lalu, untuk meredam tindakan tidak bersahabat. 
 
Lewat DOC, semua pihak sepakat untuk tidak menggunakan ancaman ataupun kekuatan militer untuk memaksakan klaim. Tetapi hingga kini China menolak untuk mengajukan COC menjadi terikat secara hukum.   

 


(FJR)