Tiba di Myanmar, Bantuan Indonesia untuk Rakhine Dibawa Lewat Jalur Darat

Akhsanul Ato    •    Jumat, 22 Sep 2017 07:04 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Tiba di Myanmar, Bantuan Indonesia untuk Rakhine Dibawa Lewat Jalur Darat
Menlu Retno Marsudi pastikan bantuan kemanusiaan Indonesia untuk Rakhine sudah tiba di Myanmar (Foto: Dok. Kemenlu RI).

Metrotvnews.com, New York: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno L.P Marsudi menyatakan, bantuan kemanusiaan Indonesia sudah tiba di Yangon, Myanmar.
 
 
Dua pesawat Hercules miliki TNI sudah tiba di Yangon pada Kamis 21 September 2017. Bantuan ini melengkapi delapan pesawat yang berisi bantuan kemanusiaan tiba di Bangladesh.
 
"Untuk yang di Myanmar dari Bandara Yangon nanti akan dibawa melalui jalur darat ke Sittwe, yang merupakan Ibu Kota Rakhine State," ujar Menlu Retno, di New York, Kamis 21 September atau Jumat 22 September 2017.
 
"Dari yang kita kirim dua pesawat tadi, isinya antara lain tenda (kapasitas 100, 50 orang) karena tantangan mereka memang masalah shelter (penampungan)," imbuh Menlu.

Menurut perkiraan, butuh waktu empat hari agar bantuan kemanusiaan itu bisa tiba ke Sittwe melalui jalan darat.
 
Kemudian Menlu menambahkan, bantuan itu juga berisi tanki air dengan kapasitas 500 liter, alat penjernih air, obat-obatan, makanan, makanan siap saji. Ini kebutuhan yang dirasakan sangat mendesak bagi orang-orang disana.
 
Masih ada keinginan lain untuk memajukan warga Rakhine di Myanmar. Untuk itu, selain bantuan kemanusiaan, akan ada bantuan lain yang akan dikaji yang sejalan dengan rekomendasi mantan Sekjen PBB Kofi Annan.
 
"Setelah semua terpenuhi, tentunya ada penilaian berikutnya, bantuan berikutnya apa (yang bisa diberikan)," tuturnya.
 
"Kita sudah mendengar bahwa mereka memerlukan bantuan untuk pembangunan infrastruktur. Karena ada kekerasan kemarin, sehingga ada beberapa infrastruktur yang mengalami kerusakan," jelas Menlu.
 
 
Untuk jangka yang lebih panjang, Menlu mengingatkan mengenai implementasi rekomendasi dari Kofi Annan. Hal ini termasuk masalah pembangunan ekonomi, pendidikan dan kesehatan juga merupakan elemen-elemen yang masuk dalam rekomendasi itu.
 
"Sehingga sambil memberikan bantuan, kita juga melakukan assesment (penilaian) untuk jangka-jangka selanjutnya," pungkas Menlu yang baru saja mendapatkan penghargaan 'Agen Perubahan untuk Kesetaraan Gender' dari PBB itu. 
 
Diharapkan dengan diberikannya bantuan kemanusiaan ke Myanmar, khususnya Rakhine, situasi keamanan di sana akan kembali normal
 
Menlu Retno dalam pertemuan dengan Aung San Suu Kyi di Naypyitaw, Myanmar 4 September lalu menyampaikan usulan dari masyarakat Indonesia yang dirumuskan dalam formula 4+1. Salah satu di dalam rumusan itu adalah mengenai dibukanya akses bantuan kemanusiaan dari masyarakat internasional ke Rakhine.
 
(Baca: Bertemu Suu Kyi, Menlu RI Sampaikan Empat Usulan Indonesia).
 
Indonesia, juga berbicara mengenai pembangunan yang inklusif di wilayah Rakhine. Pemerintah Myanmar sudah mudah untuk melakukan pembangunan inklusif karena sudah sesuai dengan rekomendasi yang diberikan Ketua Komite Penasihat Rakhine Kofi Annan.

 


 


(FJR)