Mahathir Bantah Aniaya Najib Razak

Fajar Nugraha    •    Kamis, 05 Jul 2018 12:03 WIB
politik malaysiamahathir mohamadnajib razak1mdb
Mahathir Bantah Aniaya Najib Razak
Perdana Menteri Malaysia Mahathir bantah aniaya Najib Razak (Foto: AFP).

Kuala Lumpur: Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menolak tuduhan bahwa pemerintahannya sengaja menganiaya mantan Perdana Menteri Najib Razak.
 
Najib seperti diketahui sempat ditahan pada 3 Juli 2018 dan kemudian didakwa atas kasus korupsi terkait 1Malaysia Development Berhad (1MDB).
 
Baca juga: Najib Muncul di Pengadilan atas Tuduhan Korupsi.
 
"Lebih baik bertanya kepada beliau (Najib). Saya tidak tahu," kata Mahathir, menanggapi tuduhan aniaya Najib itu, pada Selasa 4 Juli 2018.
 
Sementara Najib setelah ditangkap di rumahnya mengatakan, dirinya tidak diberikan kesempatan untuk membela diri. Pada akhirnya menurut Najib, dirinya mendapatkan serangan.
 
Najib sendiri mengaku tidak bersalah di Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur terhadap tiga dakwaan melakukan pelanggaran amanah dan satu tuduhan menyalahgunakan jabatannya sehubungan dana SRC International Sdn Bhd sebesar 42 juta ringgit Malaysia.
 
Sementara itu, Mahathir menyerukan kepada semua pegawai negeri agar transparan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk memulihkan dan mengembangkan negara.
 
Dia yakin bahwa semua 1,6 juta pegawai negeri di negara ini akan mencintai negara dan akan terus memberikan layanan terbaik sehingga Malaysia selalu aman dan berpihak pada rakyat.
 
Baca juga: Selain Korupsi, Najib Hadapi Tuntutan Pelanggaran Kepercayaan.
 

"Saya yakin kita semua sadar dan selalu bersyukur dan menghargai situasi di negara kita dan yakin bahwa tugas dan layanan kita untuk memerintah negara kita akan berhasil," tutur Mahathir, seperti dikutip dari Malaysia Kini, Kamis 5 Juli 2018.
 
"Semua ini membutuhkan sikap transparan dari kami dan bekerja dengan baik sehingga layanan kami akan menciptakan negara yang lebih maju," katanya.
 
Najib menegaskan dia akan diadili untuk membuktikan dirinya tidak bersalah dalam skandal terkait 1MDB.


(FJR)