Myanmar Sebut Bangladesh Tolak Pulangkan Pengungsi Rohingya

Arpan Rahman    •    Rabu, 01 Nov 2017 19:06 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Myanmar Sebut Bangladesh Tolak Pulangkan Pengungsi Rohingya
Pengungsi dari wilayah Rakhine, Myanmar yang berada Bangladesh usai kerusuhan di Rakhine 25 Agustus lalu (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Yangon: Myanmar menyalahkan Bangladesh karena menunda dimulainya proses repatriasi bagi ratusan ribu pengungsi Muslim Rohingya. Pihak Myanmar mengaku khawatir Dhaka mengulur-ulur waktu sampai mendapat dana bantuan internasional jutaan dolar.
 
Lebih dari 600.000 orang Rohingya meninggalkan Myanmar, yang mayoritas beragama Buddha, ke negara tetangga Bangladesh sejak akhir Agustus. Mereka menghindari kekerasan etnik yang mengiringi operasi kontra-pemberontakan militer yang brutal. Operasi menyusul serangan militan Rohingya terhadap pos-pos keamanan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.
 
Zaw Htay, juru bicara pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, berkata bahwa Myanmar siap memulai proses pemulangan kapan pun. Berdasarkan kesepakatan yang mencakup pengembalian Rohingya ke Myanmar pada awal 1990an.
 
Dia katakan Bangladesh belum menerima persyaratan tersebut. "Kami siap untuk mulai, tapi pihak lain belum menerima, dan prosesnya tertunda. Ini adalah fakta nomor satu," kata Zaw Htay, Direktur Jenderal Kementerian Penasihat Negara, kepada wartawan, pada Selasa 31 Oktober.
 
Sebuah nota kesepahaman tentang pos-pos penghubung perbatasan ditandatangani dengan Menteri Dalam Negeri Bangladesh Asaduzzaman Khan sesudah melakukan pembicaraan di ibu kota Myanmar, Naypyitaw, pekan lalu. Namun tidak ada kemajuan guna menghidupkan kembali kesepakatan lama tersebut.
 
Zaw Htay menghubungkan penundaan Bangladesh dengan dana yang dikumpulkan sejauh ini oleh masyarakat internasional buat membantu membangun kamp pengungsi raksasa bagi Rohingya.
 
"Saat ini mereka sudah mendapat USD400 juta. Selama penerimaan mereka sebesar ini, kami sekarang takut menunda program untuk mendeportasi para pengungsi," katanya dalam sebuah komentar yang dimuat dalam sebuah artikel di halaman depan surat kabar Global New Light of Myanmar, Rabu.
 
"Mereka mendapat subsidi internasional. Kami sekarang cemas mereka akan memiliki pertimbangan lain untuk repatriasi," sambungnya seperti dikutip AFP, Rabu 1 November.
 
Pemerintah Bangladesh mengeluarkan sebuah pernyataan pada Kamis lalu, yang mengatakan bahwa Myanmar tidak menyetujui 10 poin yang diajukan oleh menteri dalam perundingan pekan lalu. Termasuk pelaksanaan penuh rekomendasi dari sebuah Komisi Penasehat di Negara Rakhine, yang diketuai mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, untuk kembalinya pengungsi Rohingya secara berkelanjutan.
 
Khan menuturkan kepada media Bangladesh, pada Jumat, bahwa kedua belah pihak tidak dapat membentuk grup kerja bersama. Namun mengatakan bahwa hal tersebut harus segera diatur pada saat Menteri Luar Negeri Abul Hassan Mahmood Ali berkunjung ke Myanmar guna melakukan pembicaraan pada 30 November.
 
Pemerintah Myanmar mengaku akan menerima Rohingya begitu dipastikan bahwa mereka telah menetap di Myanmar.
 
Zaw Htay mengatakan bahwa Myanmar sedang menunggu daftar pengungsi Rohingya dari pihak Bangladesh.



(FJR)