Gelombang Kekerasan di Pemilu Afghanistan Tewaskan 170 Orang

Willy Haryono    •    Minggu, 21 Oct 2018 10:41 WIB
talibanafghanistan
Gelombang Kekerasan di Pemilu Afghanistan Tewaskan 170 Orang
Polisi memeriksa warga yang hendak menggunakan hak pilih dalam pemilu di Afghanistan, Sabtu 20 Oktober 2018. (Foto: AFP / FARID ZAHIR)

Kabul:  Data terbaru pemerintah Afghanistan menunjukkan sedikitnya 170 orang tewas atau terluka dalam gelombang aksi kekerasan terkait pemilihan umum legislatif. Angka tersebut merupakan estimasi total dari sejak masa kampanye hingga hari pemilihan.

Pemilu legislatif telah digelar sebagian pada Sabtu 20 Oktober, yang diwarnai sejumlah aksi teror, kekacauan teknis dan administratif. Gelombang kekerasan dikhawatirkan kembali terjadi saat pemilu dilanjutkan hari ini, Minggu 21 Oktober 2018, di 401 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Terjadi masalah pada alat biometrik dan juga daftar pemilih tetap serta kurangnya staf juga membuat pemungutan suara tertunda," ujar Komisi Pemilu Independen Afghanistan (IEC), seperti dilansir dari kantor berita NDTV.

IEC menyebut sekitar tiga juta orang mengikuti pemilu di 4.500 TPS. Pemilu di provinsi Ghazni dan Kandahar sempat ditunda.

Sejumlah ledakan terjadi di Kabul dalam pemilu hari pertama. Beberapa jam sebelum pemilu berakhir, seorang pengebom bunuh diri beraksi di dalam sebuah TPS di ibu kota Afghanistan.

Polisi menyebut ledakan tersebut menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai 20 lainnya. Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab, namun kelompok Taliban sebelumnya telah melancarkan lebih dari 400 serangan terkait pemilu di Afghanistan.

Baca: Taliban Bertekad Serang Aparat saat Pemilu Afghanistan

Kekerasan juga terjadi di kota Kunduz. Seorang petugas medis mengatakan kepada media AFP bahwa tiga orang tewas dan 39 lainnya terluka saat lebih dari 20 roket menghujani kota tersebut.

Delapan ledakan juga tercatat terjadi di provinsi Nangarhar, yang menewaskan dua orang dan melukai lima lainnya. Kementerian Dalam Negeri mengestimasi total korban tewas dan luka berkisar 160, dengan 27 kematian dari kalangan warga sipil.

Kemendagri Afghanistan menyebut terdapat 193 serangan terkait pemilu di seantero negeri. Pada pilpres 2014, jumlah gelombang kekerasan di seantero Afghanistan tercatat hampir mencapai 100.


(WIL)