AS dan Korsel Lanjutkan Latihan Militer

Willy Haryono    •    Senin, 05 Nov 2018 15:36 WIB
amerika serikatkorea utarakorea selatan
AS dan Korsel Lanjutkan Latihan Militer
Peluncuran misil dalam latihan gabungan AS dan Korsel di Pocheon, 21 April 2017. (Foto: AFP/JUNG YEON-JE)

Seoul: Amerika Serikat dan Korea Selatan melanjutkan latihan militer gabungan berskala kecil, Senin 5 November 2018, yang sempat ditunda untuk jangka waktu tidak tertentu. Penundaan disampaikan Presiden AS Donald Trump saat bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura pada Juni lalu.

Saat mengumumkan penundaan kala itu, Trump menyebut latihan militer gabungan antar Washington dengan Seoul "sangat provokatif."

Baca: AS dan Korsel Sepakat Batalkan Dua Latihan Militer

Namun lima bulan berlalu, latihan militer AS dan Korsel dilanjutkan. Program Pertukaran Angkatan Laut Korea (KMEP), yang melibatkan sekitar 500 personel dari AS dan Korsel, akan dilanjutkan selama dua pekan dimulai hari ini di kota Pohang.

"Sebelumnya kami telah mengatakan akan melakukan latihan berskala kecil antara AS dengan Korsel sesuai rencana," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel Choi Hyun-soo, seperti dilansir dari kantor berita AFP.

Washington adalah mitra keamanan Seoul, dan telah menyiagakan 28.500 prajurit di negara tersebut untuk mengantisipasi ancaman dari Pyongyang.

Kedua negara telah sejak lama menggelar latihan gabungan, yang ditegaskan hanya untuk persiapan pertahanan. Namun Korut memandangnya sebagai latihan untuk melancarkan invasi.

Dilanjutkannya kembali latihan militer terjadi hanya beberapa hari menjelang pertemuan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dengan Menlu Korut. Keduanya akan membahas kelanjutan denuklirisasi dan mengatur jadwal pertemuan kedua antara Trump dengan Kim.

Pekan kemarin, media Korut memperingatkan AS bahwa Pyongyang akan secara "serius" mempertimbangkan untuk kembali mengembangkan senjata nuklir. Hal itu akan dilakukan jika Washington tidak mengakhiri sanksi ekonomi terhadap Korut.

Selama bertahun-tahun, Korut telah menjalankan kebijakan "byungjin" -- istilah bagi pengembangan senjata nuklir sekaligus perekonomian negara.

AS berkukuh tetap menerapkan sanksi sebelum Korut bersedia melakukan denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea.


(WIL)