Rusia Klaim Operasinya di Suriah Lebih Efektif dari Koalisi AS

Willy Haryono    •    Rabu, 30 Nov 2016 14:52 WIB
krisis suriah
Rusia Klaim Operasinya di Suriah Lebih Efektif dari Koalisi AS
Pesawat jet tempur Mig-29 milik Rusia. (Foto: AFP / KIRILL KUDRYAVTSEV)

Metrotvnews.com, Jakarta: Rusia mengklaim operasi militernya di Suriah yang dimulai sejak tahun lalu jauh lebih efektif ketimbang koalisi global pimpinan Amerika Serikat (AS). 

Hal ini, menurut Moskow, dapat dilihat dari banyaknya infrastruktur teroris yang hancur dan diselamatkannya puluhan ribu warga sipil dari aksi kekerasan. 

"Kemajuan kami jelas lebih signifikan daripada koalisi AS. Kami sudah berbuat banyak untuk Suriah, seperti bersikukuh untuk menghadirkan solusi politik atas konflik ini," sebut Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam pertemuan rutin dengan awak media di kediamannya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2016). 

Dubes Galuzin juga memaparkan beragam upaya negaranya di Suriah, seperti menyalurkan bantuan kemanusiaan, mendorong adanya dialog damai dan lainnya. Untuk kota Aleppo, Rusia juga mengklaim telah membuka dan mengamankan enam hingga tujuh koridor kemanusiaan untuk jalur evakuasi warga. 


Dubes Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin. (Foto: MTVN/Willy Haryono)

Selain itu, Rusia juga mengklaim hanya melancarkan serangan udara ke kelompok teroris seperti Islamic State (ISIS) dan Jabhat al-Nusra. Tuduhan bahwa intervensi di Suriah hanya untuk melindungi Presiden Bashar al-Assad, disebut Rusia hanya propaganda Barat. 

"Justru AS yang gagal memenuhi janjinya sendiri, untuk membedakan oposisi moderat dengan teroris," kata Dubes Galuzin, merujuk pada Jabhat al-Nusra yang disebutnya sengaja dilindungi dan dipelihara AS untuk menggulingkan Assad. 

Moskow menegaskan intervensinya di Suriah dilakukan melalui jalur legal, dengan mendapatkan persetujuan dengan pemerintahan sah di bawah Assad. "Hingga berapa lama kerja sama ini akan berlangsung? hingga sebatas izin yang diberikan pemerintah Suriah, hingga kami dapat membebaskan warga Suriah dari jeratan teroris," ucap Dubes Galuzin. 

Menurut data grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights, konflik berkepanjangan di Suriah yang telah memasuki tahun kelima telah menelan lebih dari 400 ribu jiwa. Sementara data UNHCR mencatat konflik di Suriah telah membua lebih dari tujuh juta warga kehilangan tempat tinggal.

Sejumlah gencatan senjata telah diterapkan di Suriah, namun diyakini masih banyak warga sipil yang belum mendapatkan bantuan darurat. Pada Oktober, AS dan Rusia sepakat bahwa Suriah harus dapat memutuskan nasibnya sendiri tanpa ada campur tangan pihak lain.

 


(WIL)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA