Pesawat Pengebom AS Latihan Terbang di Angkasa Korea

Arpan Rahman    •    Jumat, 03 Nov 2017 15:31 WIB
nuklir korea utara
Pesawat Pengebom AS Latihan Terbang di Angkasa Korea
Pesawat pengebom B-1B milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Seoul: Pesawat pengebom B-1B Amerika terbang melintasi wilayah udara Korea Selatan (Korsel) dan melewati Pilsung Range negara tersebut pada latihan terakhir di sana. Demikian pengumuman angkatan udara Amerika Serikat (AS), Kamis 2 November.
 
Kantor berita resmi KCNA Korea Utara (Korut) mengklaim bahwa dua pesawat tersebut melakukan latihan pengeboman yang mensimulasikan serangan terhadap target utama di negara mereka. Meskipun pesawat pengebom tidak lagi menjadi bagian dari kekuatan nuklir AS, mereka dilengkapi sejumlah besar senjata konvensional.
 
Namun angkatan udara AS mengatakan: "Misi pesawat pengebom terus-menerus secara kontinyu (CBP) sudah direncanakan sebelumnya dan bukan menanggapi kejadian saat ini."
 
Jet tempur Jepang dan Korsel melakukan misi seturut pembom AS yang berbasis di Guam pada kunjungan 12 hari Donald Trump ke Asia. Ditaksir bahwa ancaman senjata nuklir dan rudal Korut akan menjadi agenda utama Trump kali ini.
 
Pada Kamis, HR McMaster, penasihat keamanan nasional Presiden AS, mengatakan Korut dapat dimasukkan kembali ke daftar negara-negara yang diyakini AS sebagai sponsor terorisme.
 
"Anda akan mendengar lebih banyak tentang hal itu segera, saya kira," McMaster mengatakan kepada wartawan pada sebuah konferensi pers menjelang tur lima negara Trump. Kunjungannya mencakup pertemuan dengan para pemimpin Jepang, Korsel, China, Vietnam, dan Filipina.
 
McMaster mengutip pembunuhan Kim Jong Nam di sebuah bandara di Malaysia, awal tahun ini. Tewasnya saudara tiri pemimpin Korut Kim Jong-un itu sebagai tindakan terorisme yang dapat menyebabkan Korut kembali tercantum di daftar yang saat ini hanya meliputi Iran, Sudan, dan Suriah.
 
"Rezim yang menewaskan seseorang di bandar udara umum memakai gas saraf, dan seorang pemimpin despotik yang membunuh saudaranya dengan cara itu, maksud saya, itu jelas aksi terorisme yang sesuai dengan berbagai tindakan lainnya," kata penasihat keamanan nasional seperti dikutip Guardian, Jumat 3 November 2017.
 
AS mencantumkan Korut dalam daftar hitam terorisme selama dua dekade menyusul pengeboman sebuah pesawat Korsel tahun 1987 yang menewaskan 115 orang. Namun Presiden George W Bush -- yang pernah memasukkan negara tersebut dalam "poros kejahatan" bersama dengan Iran dan Irak -- mencabut pencantumannya pada 2008 demi memperlancar jalan bagi perundingan perlucutan nuklir.
 
Menurut undang-undang yang diberlakukan pada 2 Agustus, Kementerian Luar Negeri AS wajib menentukan dalam waktu 90 hari, atau hingga Kamis, apakah Korut memenuhi kriteria sebagai negara sponsor untuk terorisme.
 
McMaster berkata, semenanjung Korea yang didenuklirisasi "adalah satu-satunya hasil yang masuk akal". Ia meminta pihak lain, termasuk China -- pemberi bantuan terbesar Korut di benua ini -- agar meningkatkan upaya mereka. "Presiden mengakui bahwa kita kehabisan waktu dan akan meminta semua negara untuk berbuat lebih banyak," pungkasnya.



(FJR)