Petinggi Kerajaan Thailand Dipecat karena Tindak Kejahatan

Arpan Rahman    •    Sabtu, 11 Nov 2017 18:08 WIB
thailand
Petinggi Kerajaan Thailand Dipecat karena Tindak Kejahatan
Raja Maha Vajiralongkorn pecat seorang ajudan yang melakukan kejahatan (Foto: AFP).

Bangkok: Seorang pejabat senior Istana Thailand telah dipecat karena melakukan tindakan jahat kriminal, termasuk berselingkuh di luar nikah dan memaksa wanita yang diduga gundiknya melakukan aborsi. 

Menurut pernyataan istana, pembesar ini akan menjadi ajudan terbaru yang dipecat di bawah Raja Maha Vajiralongkorn.

Vajiralongkorn, 65, naik tahta setahun lalu menyusul kematian ayahnya, Raja Bhumibol Adulyadej, yang memerintah selama tujuh dekade.

Raja baru belum mencapai popularitas seluas ayahnya, namun tetap terisolasi dari kritik menurut salah satu undang-undang kerajaan paling keras di dunia.

Sejak naik takhta, raja baru tersebut sudah mengurangi sejumlah pejabat istana yang berkuasa dari era ayahnya.

Ajudan terbaru yang tersingkir adalah Distorn Vajarodaya, pejabat senior di Biro Rumah Tangga Kerajaan yang bertugas sebagai Grand Chamberlain di bawah mendiang Raja Bhumibol. Ia sering mewakili pihak kerajaan yang dirundung duka selama raja sakit-sakitan di tahun-tahun terakhir pemerintahannya.

Sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh Royal Gazette, Jumat malam 10 November, mencabut atribut kerajaannya dan mencantumkan dugaan kesalahannya -- termasuk perselingkuhan di luar nikah, "memaksa" gundiknya melakukan aborsi, dan kemudian memaksa wanita itu menikahi pria lain.

"Ketika wanita itu hamil kedua kalinya, lelaki itu memaksanya melakukan aborsi lagi, tapi wanita tersebut menolak, jadi dia memaksa si wanita untuk menikah dengan pria lain yang tidak dikenal," kata pernyataan tersebut.

Distorn juga dituduh "mencatut nama Raja demi menghindari pajak dalam mengimpor kendaraan asing" untuk menggantikan mobil kerajaan yang rusak.

Ajudan tersebut juga diduga memerintahkan staf untuk memalsukan dokumen tentang sumbangan ke yayasan kerajaan yang diketuainya.

Hukum lese majeste Thailand, yang mengkriminalisasi penghinaan terhadap monarki dengan hukuman 15 tahun penjara per pelanggaran, membuat tidak mungkin untuk secara terbuka menentang tuduhan ini.

Banyak dari mereka yang dibersihkan dari lingkaran dalam monarki yang baru telah dikenai hukuman dan dipenjarakan.

Dalam salah satu episode paling dramatis, Vajiralongkorn menceraikan istri ketiganya pada akhir 2014 setelah setengah lusin kerabatnya didakwa dengan lese majeste. Para pesakitan kemudian dipenjara karena diduga menyalahgunakan ikatan kerajaan mereka dengan dirinya.

Semua media di Thailand harus hati-hati melakukan sensor saat melaporkan kabar keluarga kerajaan agar tidak melanggar hukum penghinaan.


(FJR)