Arab Saudi Dorong Komunitas Global Bantu Muslim Rohingya

Willy Haryono    •    Kamis, 07 Sep 2017 13:24 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Arab Saudi Dorong Komunitas Global Bantu Muslim Rohingya
Anak-anak minoritas Rohingya di Myanmar. (Foto: Asian Correspondent)

Metrotvnews.com, Riyadh: Serikat Arab dan Parlemen Arab, Rabu 6 September 2017, mengecam aksi kekerasan terbaru di Rakhine yang dipicu penyerangan sekelompok militan terhadap sejumlah pos keamanan Myanmar. 

Dalam pernyataan tertulis, Parlemen Arab menyerukan adanya aksi internasional untuk menghentikan "pembantaian" terhadap Muslim Rohingya di Rakhine, dengan cara meningkatkan standar hidup dan mengatasi beragam kesulitan yang mereka hadapi selama ini. 

Parlemen Arab mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk "segera mengambil tindakan."

Mereka juga mendesak "para pelaku" untuk segera diseret ke Pengadilan Kriminal Internasional atas "kejahatan terhadap kemanusiaan" dan "secara sistematis melakukan pembersihan agama serta etnis."

Secara terpisah, Serikat Arab mengeluarkan pernyataan yang mendorong otoritas Myanmar menginvestigasi aksi kekerasan dan menyeret para pelakunya ke hadapan hukum atas aksi keji terhadap Muslim Rohingya.

Duta Besar Arab Saudi untuk Turki, Walid Abdul Karim El Khereiji, mengatakan negaanya sedang berusaha menghentikan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Rohingya di Myanmar. 

Dia menyebut Arab Saudi telah mengambil sejumlah langkah untuk mengajukan sejumlah pelanggaran itu ke panggung internasional. Ia mengklaim PBB mengecam kekerasan di Myanmar setelah Riyadh menghubungi Sekjen PBB Antonio Guterres. 


Pengungsi Rohingya di Kutupalong, Bangladesh. (Foto: AFP)

Grup ARSA

Walid juga menegaskan Arab Saudi secara aktif mendorong DK PBB agar mendiskusikan krisis Rohingya di Rakhine.

"Kerajaan Arab Saudi, sebagai pemimpin dari dunia Islam, akan meneruskan usaha untuk mencari solusi di level internasional," ungkap Walid. 

Menurut PBB, 123.600 Rohingya telah menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh setelah konflik terbaru meletus. Sementara puluhan ribu lainnya diperkirakan telantar dan terancam aksi kekerasan di dalam Rakhine. 

Sejumlah perwakilan Rohingya mengaku sekitar 400 anggota dari etnis mereka tewas dalam operasi militer di Rakhine.

Baca: Bangladesh Tuduh Myanmar Tanam Ranjau di Perbatasan

Dalam beberapa pekan terakhir, Myanmar meningkatkan jumlah personel militernya di Maungdaw, dan kelompok militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap sejumlah pos keamanan pada 25 Agustus.

ARSA menyebut serangan merupakan respons terhadap penyerbuan, pembunuhan dan penjarahan oleh militer Myanmar di Rakhine sejak Oktober tahun lalu.

Diplomasi Indonesia


Menlu Retno berbicang dengan Suu Kyi di Naypyidaw. (Foto: AFP)

Setelah konflik terbaru meletus di Myanmar, Presiden Joko Widodo langsung mengutus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk berkomunikasi dengan sejumlah pihak terkait.

Menlu Retno telah bertemu pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi dan menyampaikan usulan dengan formula 4+1. 

Empat pertama mengenai perdamaian dan keamanan, kedua perlindungan maksimum, menahan diri dan tanpa kekerasan, ketiga perlindungan tanpa memandang etnis dan agama, serta akses penyaluran bantuan kemanusiaan.

Satu lainnya adalah implementasi laporan Kofi Annan, Ketua Komisi Penasihat Negara Bagian Rakhine yang ditunjuk Pemerintah Myanmar sendiri. Menurut Retno, Suu Kyi menanggapi positif usulan dengan formula 4+1 yang disampaikan Indonesia.

Dari Myanmar, Menlu Retno bertemu PM dan Menlu Bangladesh untuk membicarakan masalah bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Rohingya.

 


(WIL)