BMKG-NOAA Terus Tingkatkan Kerja Sama

   •    Jumat, 29 Jun 2018 07:58 WIB
indonesia-as
BMKG-NOAA Terus Tingkatkan Kerja Sama
BMKG menyelenggarakan 13th Annual Indonesia-U.S. Ocean and Climate Observations, Analysis and Applications Partnership Workshop yang diselenggarakan atas kerjasama BMKG dengan NOAA (Foto:BMKG)

Jakarta: Indonesia memiliki luas perairan hampir mencapai 65% dari keseluruhan luas wilayahnya. Interaksi laut dan udara di kawasan tropis menjadi pendorong utama kejadian cuaca dan iklim ekstrem seperti siklon tropis, kekeringan, banjir, puting beliung, dan gelombang tinggi.

Menurut UU No. 31 tahun 2009, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memiliki mandat untuk memberikan pelayanan informasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika guna meningkatkan keselamatan publik, transportasi dan infranstruktur masyarakat.

Selain itu, BMKG dituntut untuk memberikan informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi secara cepat tepat dan akurat, terlebih saat ini sering terjadi kejadian cuaca ekstrem sehingga perlu memberikan informasi peringatan dini cuaca dan iklim secara cepat, tepat, dan akurat.

"Kondisi ini menuntut BMKG untuk terus melakukan lompatan-lompatan inovasi dan kapasitas daya analisa dan instrument teknologi sehingga BMKG melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan National Oceanic and Atospheric Administration (NOAA) dengan dukungan Kedutaan Amerika Serikat (AS)," ujar  Kepala BMKG Dwikorita Karnawati seperti dikutip dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id.

Sejak tahun 2006, BMKG-NOAA sudah berkolaborasi untuk proyek bersama perihal observasi di Samudera Hindia dan Training Workshop untuk peningkatan SDM pegawai BMKG.

Pada tahun ini, BMKG menyelenggarakan 13th Annual Indonesia-U.S. Ocean and Climate Observations, Analysis and Applications Partnership Workshop yang diselenggarakan atas kerjasama BMKG dengan NOAA, USA dengan mengambil tema "Improving Seasonal Predictability and Marine Weather Services Capacity Over Maritime Continent".

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guna menghasilkan tingkat akurasi prakiraan iklim dan pelayanan cuaca maritim.

Pada kerjasama ini pun, BMKG secara rutin mengirimkan dua orang staf teknis (Forecaster/Analist) untuk melakukan training selama tiga bulan di kantor NOAA di Wasington DC, dan kesempatan untuk sekolah program Master dan Doktoral di Negeri Paman Sam tersebut.

"Tahun ini, BMKG berhasil melakukan lompatan inovasi prakiraan cuaca, yang tahun sebelumnya presisi untuk ketelitian tingkat kabupaten, tetapi tahun ini hingga tingkat kecamatan," imbuh Dwikorita. Sementara untuk peringatan dini, BMKG tahun ini sudah dapat memberikan peringatan dini 6 jam sebelum kejadian, yang sebelumnya hanya mampu 3 jam sebelum kejadian," tambah Dwikorita.

Disela-sela penjelasan, Dwikorita menuturkan setiap tahun, melalui kerjasama dengan NOAA, BMKG melakukan pemeliharaan buoy guna pengamatan cuaca dengan mengirimkan tim ekspedisi untuk melakukan pengamatan di Samudra dan pemeliharaan buoy untuk meningkatkan keakurasian data cuaca dan iklim.

Sementara perwakilan dari NOAA, Sidney Thurston, Ph.D. mengutarakan bahwa kegiatan ini untuk membangun kerjasalan dalam observasi global di Samudera Hindia untuk penelitian dan prakiraan cuaca dan iklim.

"Kegiatan ini pun untuk meningkatkan daya analisis BMKG untuk prediksi cuaca lebih panjang, tidak hanya sekedar 3 hari atau 6 hari kedepan, tetapi dapat mencapai 2 minggu kedepan, 3 minggu ke depan. Bahkan 6 minggu kedepan karena akhir-akhir ini terjadi fenomena cuaca yang dipengaruhi adanya Madden Julian Oscillation (MJO)," imbuh Sidney Thurston.

Dwikorita mengharapkan kerjasama ini diharapkan dapat meningkatkan daya analisis dan analisis numerik berbasis data sehingga diharapkan adanya peningkatan kualitas data karena adanya peningkatan kualitas alat dan observasi, yaitu pengamatan di Samudra yang dulunya hanya pengamatan satelit dan radar dan saat ini sedang ditingkatkan big data dan artificial intelligence sehingga diiharapkan dapat menghasilkan data yang lebih akurat untuk 1 tahun ke depan.

Sementara perwakilan dari Kedutaan AS, Susan Shultz mengutarakan bahwa dirinya mrendukung kegiatan kerjasama BMKG dengan NOAA, diharapkan melalui kerjasama ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahanam cuaca. 

"Saya harap BMKG dan NOAA dapat menunjukkan peran penting pengamatan di Samudera Hindia seperti Ina-Prima," tutur Susan.

Acara pembukaan workshop dihadiri oleh Prof. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. sebagai Kepala BMKG, Susan Shultz sebagai Acting Deputy Chief of Mission Kedutaan AS dan Sydney Thurston, Ph.D. dari Overseas Program Development NOAA.

Kegiatan yang dilakukan selama dua hari dari 27-29 Juni di Hotel Grand Mercure Jakarta ini menghadirkan para pakar iklim dan kelautan dari NOAA dan Universitas di Amerika, serta peserta workshop yang diikuti 35 forecaster Klimatologi dan 25 forecaster Meteorologi Maritim termasuk dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan BMKG dan Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG).
 


(WAH)