Beijing Dituding Agresif Ingin Kuasai Laut China Selatan

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 31 Oct 2017 16:13 WIB
laut china selatan
Beijing Dituding Agresif Ingin Kuasai Laut China Selatan
Deputi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno (memegang mikfrofon) dalam diskusi mengenai Laut China Selatan di Hotel Aryaduta, Jakarta 31 Oktober 2017 (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Persaingan kekuatan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok di Laut China Selatan diduga menjadi dasar Beijing bersikap agresif. Faktor persaingan kekuatan di kawasan Asia Tenggara antara negara besar ini diungkapkan oleh Deputi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno.
 
Havas menuturkan Tiongkok terus membangun instalasi militer dan pulau buatan di perairan sengketa itu untuk memperjelas posisi dan kekuatannya di Asia. Padahal klaimnya telah dimentahkan oleh Pengadilan Tetap Arbitrase (PCA).
 
"AS melakukan serangkaian operasi patroli laut di Laut China Selatan untuk meredam. Karena itu, Tiongkok berkeras untuk mengklaim wilayah sengketa bahkan dengan aspek militernya," ujar Havas dalam seminar 'Geopolitical and Legal Development Post Permanent Court of Arbitration Award on South China Sea Dispute', di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa 31 Oktober 2017.
 
Sejak sebagian besar wilayah tersebut diklaim Tiongkok, Laut China Selatan sangat rentan konflik. Tumpang tindih wilayah dengan sejumlah negara lain di Asia Tenggara, seperti Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia dan Vietnam memperburuk situasi di sana.
 
Meski bukan termasuk negara pengklaim wilayah tersebut, Negeri Paman Sam selama ini berupaya menekankan kebebasan bernavigasi di 'jalur sutra' itu. Mereka menganggap Laut China Selatan sebagai perairan internasional.
 
Namun, Havas tidak menyangkal bahwa dua negara adi daya tersebut masih memiliki pengaruh dan kekuatan besar di Asia Tenggara. Karenanya, menurut dia putusan PCA tidak memiliki pengaruh besar pada kawasan.
 
"Putusan PCA berdampak, tapi tidak besar. Wilayah kita berada di wilayah Asia Pasifik, khususnya timur dan tenggara, kita memiliki kekuatan dominan AS," imbuhnya.
 
Pengadilan Arbitrase Permanen atau PCA di Den Haag, Belanda, akhirnya mengeluarkan putusan mengenai gugatan Filipina terhadap Tiongkok atas sengketa perairan Laut China Selatan, 12 Juli 2016 lalu.
 
PCA menolak mengakui klaim Tiongkok atas sembilan garis putus di Laut China Selatan. Selama ini, Negeri Tirai Bambu menegaskan nine-dash line merupakan wilayah peninggalan leluhurnya, yang tercantum dalam peta versi mereka sendiri pada 1947. 
 
Filipina menantang klaim Tiongkok ke Den Haag pada 2013. Filipina menyebut Tiongkok telah melanggar perjanjian United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) terkait klaim di perairan strategis ini.



(FJR)