Konflik Laut China Selatan Mereda Tiga Tahun Terakhir

Sonya Michaella    •    Selasa, 31 Oct 2017 10:41 WIB
laut china selatan
Konflik Laut China Selatan Mereda Tiga Tahun Terakhir
Kepala BPPK Kementerian Luar Negeri RI, Siswo Pramono (kedua dari kiri) berbicara tentang isu Laut China Selatan (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Konflik Laut China Selatan seakan belum benar-benar mereda. Walaupun ketegangan antara dua negara yang paling bersitegang yakni Tiongkok dan Filipina sudah jarang terjadi, konflik-konflik kecil antara negara yang berebutan perairan ini masih ada.
 
Laut China Selatan diperebutkan oleh sejumlah negara di Asia. Selain Filipina dan Tiongkok, laut yang dilewati kapal perdagangan internasional ini juga diperebutkan oleh Vietnam, Brunei, Taiwan, dan Malaysia.
 
Indonesia, sebagai bukan negara pengklaim, selalu berusaha mengutamakan perdamaian dan kesejahteraan di kawasan tersebut.
 
"Walaupun putusan arbitrase keluar pada Juli 2016 lalu, namun konflik tidak terlalu besar dalam tiga tahun terakhir," ucap Kepala BPPK Kementerian Luar Negeri RI, Siswo Pramono dalam seminar 'Geopolitical and Legal Development Post Permanent Court of Arbitration Award on South China Sea Dispute', di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa 31 Oktober 2017.
 
"Selain itu, ASEAN, sebagai organisasi di kawasan Asia Tenggara, selalu mencoba meredam konflik, begitu juga Indonesia," lanjut dia.
 
Siswo juga mengatakan bahwa Pengadilan Arbitrase Internasional juga menerima posisi Indonesia, di mana Indonesia menyebutkan bahwa nine dashed line atau sembilan garis putus bertentangan dengan UNCLOS.
 
"Di balik itu semua, Indonesia tetap pada posisi yang selalu mengutamakan perdamaian dan keamanan di wilayah perairan tersebut," ungkap Siswo lagi.
 
Pengadilan Arbitrase Permanen atau PCA di Den Haag, Belanda, akhirnya mengeluarkan putusan mengenai gugatan Filipina terhadap Tiongkok atas sengketa perairan Laut China Selatan, 12 Juli 2016 lalu.
 
 
PCA menolak mengakui klaim Tiongkok atas sembilan garis putus di Laut China Selatan. Selama ini, Negeri Tirai Bambu menegaskan nine-dash line merupakan wilayah peninggalan leluhurnya, yang tercantum dalam peta versi mereka sendiri pada 1947. 
 
Filipina menantang klaim Tiongkok ke Den Haag pada 2013. Filipina menyebut Tiongkok telah melanggar perjanjian United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) terkait klaim di perairan strategis ini.



(FJR)