Malaysia Panggil Dubes Myanmar Pertanyakan Penganiayaan Rohingya

Arpan Rahman    •    Jumat, 25 Nov 2016 19:28 WIB
konflik myanmar
Malaysia Panggil Dubes Myanmar Pertanyakan Penganiayaan Rohingya
Polisi Myanmar melakukan penjagaan (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: Pemerintah Malaysia akan memanggil duta besar Myanmar atas tindak kekerasan terhadap Muslim Rohingya di barat laut negara bagian Rakhine. Kementerian Luar Negeri mengatakan, pada Jumat 25 November, ratusan demonstran di seluruh Asia Tenggara sudah berdemonstrasi menentang kekerasan yang meningkat.
 
Konflik di Rakhine telah menyengsarakan ratusan Muslim Rohingya. Mereka ketakutan melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh. Kekerasan ini merupakan tantangan serius bagi pemimpin Aung San Suu Kyi, yang meraih kekuasaan tahun lalu atas janji-janjinya soal rekonsiliasi nasional.
 
Setidaknya 86 orang dilaporkan telah tewas dalam eskalasi kekerasan yang telah membuat sekitar 30.000 penduduk mengungsi. Insiden terbaru adalah pertumpahan darah yang paling serius di kawasan itu sejak ratusan jiwa tewas dalam bentrokan komunal pada 2012.
 
Kemenlu Malaysia meminta semua pihak yang terlibat hendaknya menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk situasi.
 
"Malaysia juga menyerukan pemerintah Myanmar mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mengatasi dugaan pembersihan etnis di negara Rakhine utara," kata sebuah pernyataan Kemenlu Malaysia.
 
"Kementerian akan memanggil duta besar Myanmar untuk menyampaikan perhatian pemerintah Malaysia atas masalah ini," tambahnya, tanpa memberikan kerangka waktu.
 
Ratusan Muslim Rohingya turun ke jalanan di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, mengutuk tindakan keras berdarah terhadap minoritas yang dianiaya. Mereka juga mengecam pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Suu Kyi untuk sikap diam membisunya tanpa tindakan apa-apa.
 
Para pengunjuk rasa menuntut bantuan kemanusiaan ke Rakhine, dan mendesak pihak militer menangkap semua penyerang.
 
"Pemerintah Myanmar mengatakan ini klaim yang dibuat-buat tapi semuanya ini tidak mengada-ada," kata pemimpin komunitas Rohingya, Muhammad Noor kepada wartawan, mengacu pada laporan insiden pembunuhan, pemerkosaan istri, dan anak-anak perempuan serta pembakaran rumah-rumah.
 
"Gerakan ini harus terus berlanjut, untuk menekan pemerintah menghentikan pembunuhan," serunya lantang yang dikutip Reuters, Jumat (25/11/2016).
 
Pekan ini, mayoritas Muslim Malaysia semula mempertimbangkan kesebelasannya mundur dari turnamen sepak bola Asia Tenggara yang Myanmar jadi salah satu tuan rumahnya sebagai bentuk protes terhadap tindakan keras. Tapi kemudian memutuskan terus melanjutkan pertandingan.
 
Protes juga diadakan serentak di Bangkok, ibukota negara tetangga Thailand, dan di ibu kota Indonesia, Jakarta. Para pengunjuk rasa di Jakarta menyerukan panel Nobel untuk membatalkan penghargaan kepada Suu Kyi.
 
Indonesia "siap dan bersedia" membantu Myanmar memulai dialog, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakannya pekan ini.
 
 
Banyak di antara mayoritas Budha di Myanmar melihat 1,1 juta Rohingya sesama penduduknya sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.
 
Penganiayaan dan kemiskinan menyebabkan ribuan Rohingya melarikan diri dari Myanmar menyusul kekerasan antara umat Budha dan Muslim di sana, empat tahun silam. Banyak dari mereka yang diselundupkan atau diperdagangkan ke Thailand, Malaysia, dan negara-negara lain.



(FJR)