2,000 Rohingya Berkumpul di Pesisir untuk Menyeberang ke Bangladesh

Willy Haryono    •    Minggu, 01 Oct 2017 12:45 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
2,000 Rohingya Berkumpul di Pesisir untuk Menyeberang ke Bangladesh
Lebih dari 500 ribu pengungsi telah meninggalkan Rakhine menuju Bangladesh sejak Agustus 2017. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Rakhine: Lebih dari 2.000 etnis Rohingya telah berkumpul di pesisir pantai Myanmar sepanjang pekan ini usai berjalan dari desa-desa mereka di Rakhine State. Mereka hendak bergabung dengan 500 ribu pengungsi yang sudah berada di Bangladesh. 

Eksodus besar-besaran ini terjadi di tengah operasi perburuan militan yang dilancarkan pemerintah Myanmar. Warga Rakhine mengaku militer Myanmar bertindak brutal dalam menjalankan operasi tersebut. 

Perjalanan dari Rakhine ke Bangladesh bukan perkara mudah. Jika melalui jalur air, risiko kapal yang ditumpangi terbalik relatif tinggi di tengah cuaca buruk. 

Lebih dari 100 Rohingya dilaporkan tewas tenggelam saat berusaha menyeberangi sungai Naf yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh. 

Insiden terbaru terjadi Kamis kemarin, saat sebuah kapal berisi pengungsi asal Rakhine tenggelam di kawasan pesisir Bangladesh. Sebanyak 60 orang dikhawatirkan meninggal dunia, dengan 23 di antaranya adalah anak-anak. 

"Sejak Selasa, mereka meninggalkan tempat tinggal masing-masing, mengklaim merasa tidak aman karena hampir tidak ada siapa-siapa lagi di desanya. Sebagian besar kerabat mereka sudah pergi ke Bangladesh," lapor kantor berita Global Light of Myanmar, seperti dilansir The New Arab, Minggu 1 Oktober 2017. 

Laporan otoritas setempat menyebut sekitar 1.000 Rohingya berkumpul di kawasan pantai dekat desa Lay Yin Kwin. Serangkaian foto wanita dan anak-anak yang diawasi petugas bermunculan di media sosial. 

Dilaporkan pula otoritas Myanmar berusaha meyakinkan Rohingya bahwa mereka tetap aman di Rakhine. Namun mereka mengaku ingin tetap pergi ke Bangladesh.

Krisis terbaru di Rakhine dimulai saat grup militan Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA menyerang sejumlah pos polisi pada 25 Agustus. Myanmar merespons dengan mengerahkan militer untuk memburu ARSA.

Amerika Serikat menuduh Myanmar melakukan pembersihan etnis di Rakhine. 

 


(WIL)