Arti Penting Politik untuk Perempuan

   •    Rabu, 18 Jan 2017 20:08 WIB
politik
Arti Penting Politik untuk Perempuan
Wadubes AS Brian McFeeters bersama Perempuan Politik (Foto: Perempuan Politik).

Metrotvnews.com, Jakarta: Keterlibatan perempuan dalam politik di Indonesia masih harus ditingkatkan. 
 
Ini yang mendorong tiga perempuan muda meluncurkan Lembaga Swadaya Masyarakat bernama Perempuan Politik di @america, Pacific Place pada Selasa 17 Januari. 
 
Adalah Tsamara Amany, Rachael Abigail, dan Nita wakan, yang merasa keterlibatan perempuan dalam politik penting untuk menyelesaikan masalah tentang perempuan. Mereka pun memutuskan untuk membentuk organisasi yang menjadi wadah bagi perempuan untuk berani peduli tentang politik. 
 
Dalam launching berbentuk diskusi dengan tema "Women & Politics" tersebut, hadir perempuan dan politisi inspiratif seperti Dinna Wisnu, Grace Natalie, Budiman Sudjatmiko, KH Maman Imanulhaq, dan Siti Zuhro. 
 
Mereka menimbang posisi perempuan dari perspektif desa, agama, dan internasional, yang juga diperhatikan oleh Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia Brian McFeeters. 
 
Wakil Ketua Pansus UU Desa Budiman Sudjatmiko menilai mengatasi keterpinggiran perempuan dalam politik harus dimulai dari desa. Menurut Budiman, sel tubuh sebuah bangsa letaknya di desa. 
 
"Di situ ada tradisi berusia ratusan tahun. Di situ ada kekerabatan ratusan tahun. Di situ ada batas ruang yang diatur ratusan tahun. Ada hubungan antar orang yang diatur ratusan tahun," ujar Budiman, dalam keterangan tertulis Perempuan Politik yang diterima Metrotvnews.com, Rabu (18/1/2017). 
 
Anggota DPR RI sekaligus Ketua Lembaga Dakwah PBNU Maman Imanulhaq menilai keterpinggiran perempuan dalam politik justru karena alasan agama. Menurut Maman, agama seharusnya bisa menjadi motor kemajuan kaum perempuan. 
 
"Siti Aisyah menjadi guru politik kepada para sahabat nabi yang tua. Khodijah adalah pengusaha besar dan diberi kewenangan oleh Muhammad untuk menjadi donatur dari gerakan-gerakan literasi," katanya. 
 
Sementara itu, Ketua Umum PSI Grace Natalie menganggap kuota 30 persen bagi perempuan di DPR bukanlah solusi akhir. "Akibatnya partai asal comot tanpa melihat latar belakang intelektualnya. Yang penting memenuhi kuota 30 persen. Ini bukan hanya soal kuantitas, tapi soal kualitas," pungkas mantan jurnalis itu. 
 
Dinna Wisnu sendiri berharap setiap perempuan mendukung para perempuan lainnya yang terlibat dalam politik. "Pilihlah, dukung, atau bantu bagaimanapun caranya perempuan lain yang mengorbankan waktu, tenaga, dan keahliannya," Sebut komisioner ASEAN Intergovermental Comission on Human Rights ini. 



(FJR)