Ledakan Bom Tewaskan Tiga Polisi di Thailand Selatan

Willy Haryono    •    Jumat, 23 Sep 2016 14:58 WIB
bom thailand
Ledakan Bom Tewaskan Tiga Polisi di Thailand Selatan
Polisi memeriksa lokasi ledakan bom di provinsi Pattani, Thailand, 24 Agustus 2016. (Foto: AFP/TUWAEDANIYA MERINGING)

Metrotvnews.com, Yala: Tiga polisi tewas terkena ledakan dari sebuah bom yang disembunyikan di bawah tanah di selatan Thailand, Jumat (23/9/2016). Ledakan terjadi di tengah kekhawatiran pupusnya harapan dialog damai pemerintah Thailand dengan pemberontak di wilayah Deep South.

Deep South adalah wilayah di Thailand yang didominasi warga Muslim di dekat perbatasan Malaysia. Sejak pemberontakan meletus pada 2004, gelombang pengeboman dan penembakan terus terjadi di wilayah tersebut.

Lebih dari 6.600 orang -- sebagian besar warga sipil -- tewas dalam konflik antara militan etnis melayu melawan aparat keamanan Thailand di Deep South. 

Dalam insiden terbaru, tiga polisi berusia 20-an, tewas setelah mobil mereka terkena bom di provinsi Yala. 

"Mereka sedang dalam tugas mengumpulkan data intelijen," kata seorang polisi di distrik Krongpinang kepada AFP

Setelah meledakkan bom dari jarak jauh, para pelaku menembaki polisi dari balik pepohonan. Tiga aparat tewas dan satu lainnya terluka. 

Deep South


Polisi memeriksa lokasi ledakan bom di Deep South. (Foto: AFP)

Terpencil dan dikelilingi bukit serta hutan rimba, Krongpinang adalah wilayah kekuasaan pemberontak di mana tingkat kepercayaan terhadap penegak hukum Thailand sangat rendah. 

Pemerintahan junta Thailand mengklaim telah mencoba menghidupkan kembali dialog damai dengan militan Muslim di Deep South sejak 2014. Namun negosiasi hanya sebatas wacana, dan pemberontakan pun terus terjadi. 

Para pemberontak di Deep South diyakini sebagai dalang di balik serangkaian ledakan bom di beberapa kawasan wisata Thailand pada Agustus, yang menewaskan empat orang dan melukai puluhan lainnya. Namun otoritas Thailand menegaskan pemberontak di selatan tidak ada hubungannya. 

Sejumlah kritik menilai junta militer hanya ingin menggelar dialog damai, tapi menolak mempertimbangkan memberikan kekuatan otonomi ke Deep South, yang merupakan salah satu permohonan utama pemberontak.


(WIL)