Bangladesh Protes Gelombang Pengungsi Baru dari Myanmar

Willy Haryono    •    Rabu, 06 Feb 2019 15:54 WIB
myanmarrohingyabangladesh
Bangladesh Protes Gelombang Pengungsi Baru dari Myanmar
Seorang penjaga perbatasan bersiaga di sekelompok Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar, 25 Januari 2019. (Foto: AFP/RICHARD SARGENT)

Dhaka: Bangladesh memprotes adanya gelombang pengungsian terbaru asal Myanmar, tepatnya dari negara bagian Rakhine. Pengungsian terbaru terjadi usai berlangsungnya bentrokan antara pasukan keamanan Myanmar dengan sebuah grup pemberontak.

Kementerian Luar Negeri Bangladesh memanggil Duta Besar Myanmar pada Selasa 5 Februari malam waktu setempat. Pengungsi baru dari Rakhine ini terdiri dari kelompok pemeluk agama Buddha dan beberapa grup etnis lain.

"Jumlahnya terus bertambah. Beberapa orang bahkan sudah menunggu di wilayah perbatasan, dan mereka juga mungkin akan masuk. Kami meminta mereka (Myanmar) untuk mengambil langkah efektif agar aksi kekerasan (di Rakhine) berhenti," ujar seorang pejabat Kemenlu Bangladesh kepada kantor berita AFP, Rabu 6 Februari 2019.

Seorang petugas penjaga perbatasan Bangladesh mengatakan sekelompok pengungsi menyeberang dari Myanmar melalui area perbukitan terpencil di distrik Bandarban. 

Saat ini, Bangladesh sudah direpotkan lebih dari 740 ribu etnis Rohingya yang melarikan diri dari Rakhine sejak Agustus 2017. Sebanyak 300 ribu tambahan Rohingya juga melarikan dari Rakhine beberapa bulan lalu.

Baca: Bangladesh Tak Menganggap Rohingya sebagai Pengungsi

Dalam konflik terbaru, etnis mayoritas di Rakhine saat ini, yang merupakan pemeluk agama Buddha, berseteru dengan militer Myanmar. Penyebab perseteruan ini belum dapat dipastikan.

Pada 4 Januari, grup militan Arakan Army (AA) menyerukan adanya kekuasaan otonom di Rakhine. Mereka membunuh 13 orang dalam penyerangan ke sejumlah pos perbatasan Myanmar beberapa wkatu lalu. Militer Myanmar mengaku sudah membunuh 13 militan AA dalam serangan balasan. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut sedikitnya 5.200 orang di Myanmar menjadi telantar akibat gelombang kekerasan. Jumlah kematian dalam kekerasan tersebut sulit diverifikasi, karena Myanmar melarang akses masuk kepada awak media.

Pertempuran antara etnis Buddha dengan militer Myanmar membuat masalah di Rakhine semakin kompleks. Sejak 2012, negara bagian tersebut dilanda kerusuhan bernuansa agama dan komunal, eksodus Rohingya dan pembunuhan terhadap beberapa etnis.

Protes Bangladesh muncul saat aktris Hollywood Angelina Jolie mengatakan pada Selasa 5 Februari bahwa Myanmar harus "memperlihatkan komitmen tulus" untuk mengakhiri kekerasan yang membuat banyak Rohingya melarikan diri.

PBB sedang menyiapkan seruan baru ke level internasional untuk menggalang dana hingga hampir USD1 miliar dolar atau setara Rp13 triliun untuk membantu Rohingya.



(WIL)