Trump Minta Presiden Tiongkok Tekan Korut di Bidang Ekonomi

Sonya Michaella    •    Kamis, 09 Nov 2017 08:40 WIB
as-tiongkokrudal korut
Trump Minta Presiden Tiongkok Tekan Korut di Bidang Ekonomi
Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Beijing: Dalam kunjungannya ke Tiongkok, isu Korea Utara (Korut) adalah salah satu isu utama yang dibahas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

"Jangan meremehkan kami (AS) dan jangan macam-macam dengan kami," tulis Trump dalam akun Twitternya, seperti dilansir AFP, Kamis 9 November 2017.

Merujuk pada perundingan soal Korut, dilaporkan Trump mendesak Xi untuk bergerak lebih banyak dalam menekan Pyongyang, secara ekonomi.

Pemerintahan Trump memandang Beijing sebagai kunci untuk mengendalikan Pyongyang, di mana Negara Komunis tersebut bergantung 90 persen perdagangannya kepada Tiongkok.

Selain membahas Korut, Trump berencana untuk mendorong peningkatan di bidang pertahanan dengan Tiongkok. Diperkirakan, nilai investasi sebesar USD20 miliar akan disepakati antara perusahaan AS dan Tiongkok.

Sebelum tiba di Tiongkok, Trump yang melakukan kunjungan ke Korea Selatan (Korsel) mengancam agar Pyongyang tidak menjajal keseriusan AS dalam menjaga perdamaian dunia. Dia mengancam pemimpin Korut, Kim Jong-un jika mereka berani mencobai AS.
 
"Jangan meremehkan kami dan jangan coba-coba dengan kami," ujar Trump kepada Korut, di hadapan Majelis Nasional Seoul, sebelum berangkat ke Beijing.

Dengan tegas dia menuturkan bahwa Pyongyang adalah neraka bagi warga Korut dan dunia.
 
"Senjata yang Anda buat tidak membuat Anda lebih aman, mereka malah membahayakan rezim Anda. Setiap langkah yang Anda ambil di jalan gelap ini malah lebih meningkatkan bahaya yang akan Anda hadapi," serunya.
 
"Korea Utara bukanlah surga yang dibayangkan kakekmu. Ini adalah neraka yang tidak pantas bagi siapapun!"
 
Namun, dalam pidatonya Trump mengisyaratkan kemungkinan diplomasi untuk menyelesaikan kebuntuan. Namun isyarat berdialog itu hanya bisa dilakukan jika Korut menghentikan untuk mengembangkan program nuklir mereka.



(FJR)