Pengungsi Rohingya: Kami Disebut Teroris

Faisal Abdalla    •    Minggu, 03 Sep 2017 00:32 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Pengungsi Rohingya: Kami Disebut Teroris
Warga Rohingya yang menyelamatkan diri dari aksi kekerasan di Desa Yathae Taung (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Jakarta: Selama sepekan terakhir, kekerasan kembali merebak di wilayah Rakhine, Myanmar. Etnis Rohingya terus menjadi korban aksi kekerasan yang diduga dilakukan pihak militer Myanmar.
 
Akibat konflik yang tak kunjung berkesudahan ini, banyak warga etnis Rohingya memilih mengungsi ke negara lain, termasuk Indonesia. Seorang pengungsi Rohingya yang sudah dua tahun tinggal di Medan, Muhammad Masud, mengatakan konflik Rohingya terjadi lantaran pemerintah Myanmar menolak mengakui etnis Rohingya sebagai bagian dari negaranya.
 
"Aung San Suu Kyi dan pemerintahannya selalu berkata muslim Rohingya bukan bagian dari Myanmar. Kami disebut teroris dan tidak baik," kata Masud dalam Program Primetime News Metro TV, Sabtu 2 September 2017.
 
Lebih dari itu, menurut Masud pemerintah Myanmar bukan hanya menargetkan warga muslim saja. Akan tetapi semua warga yang beretnis Rohingya.
 
"Banyak umat Hindu Rohingya yang juga kabur ke Bangladesh karena militer selalu ingin menyingkirkan orang Rohingya, baik Muslim maupun Hindu. Mereka ingin menyingkirkan orang Rohingya karena mereka selalu sebut kami ini bukan orang Myanmar, tapi Bangladesh," beber Masud.
 
Sebaliknya, Masud menegaskan etnis Rohingya bukanlah orang-orang Bangladesh. Akan tetapi Rohingya adalah warga asli Myanmar namun tidak diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar.
 
Terakhir Masud berharap kepada pemerintah Myanmar untuk segera menghentikan kekerasan terhadap saudara-saudaranya dan menjaga perdamaian di kawasan Rakhine.
 
"Yang ingin saya katakan adalah kita hanya orang-orang yang tidak berdaya. Kami mohon segera hentikan kekerasan di Myanmar," imbuh Masud.
 
Aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya mengundang banyak kecaman, termasuk dari Indonesia. Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi berencana menemui langsung pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi untuk membahas masalah ini.
 
"Saat terjadi krisis kemanusian, apakah kita hanya cukup menyampaikan keprihatinan atau kita hanya cukup menyampaikan kutukan? Tentunya tidak. Indonesia memilih untuk berbuat sesuatu membantu krisis kemanusiaan tersebut, terutama untuk saudara-saudara kita umat Muslim di Rakhine State," tegas Retno.



(DHI)