Mahathir: Bangun Pasar Domestik Baru Bertarung di Luar

Fajar Nugraha    •    Jumat, 29 Jun 2018 18:58 WIB
presiden jokowiindonesia-malaysiamahathir mohamad
Mahathir: Bangun Pasar Domestik Baru Bertarung di Luar
Indonesia-Malaysia Business Council menjadi wadah para pengusaha Indonesia dan Malaysia. (

Jakarta: Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyempatkan diri untuk bertemu dengan kalangan usaha Indonesia. Mahathir menghadiri pertemuan Indonesia-Malaysia Business Council (IMBC) di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Pertemuan Jumat, 29 Juni 2018 itu, mempertemukan dua sahabat yakni antara Mahathir dengan mantan Menteri BUMN Tanri Abeng. Dalam forum tersebut pemimpin berusia 92 tahun memaparkan apa yang menjadi kelemahan Malaysia dan Indonesia dalam bidang ekonomi serta cara memecahkan masalah itu.

Menurut Mahathir, tidak kelihatan kemajuan berarti dari ekonomi Indonesia dan Malaysia. Bagi Mahathir, Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda.

“Kita adalah etnik yang sama dan punya bahasa sama bahkan agama yang sama juga dan semuanya sama antara Indonesi-Malaysia. Ramai (banyak) daripada rakyat Malaysia berasal dari Indonesia. Tetapi kerja sama dalam bidang perdagangan dan bisnis tidak sebegitu,” ujar PM Mahathir dalam forum IMBC di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat 29 Juni 2018.

“Sepatutnya memanfaatkan jumlah kita yang banyak dalam bidang perusahaan niaga. Kalau market kecil, maka bisnis tidak akan besar. Kalau market domestik lebih mudah. Kita harus mengutamakan domestik market sebelum foreign market. Indonesia-Malaysia punya market hampir USD260 ribu miliar. Sangat besar dan banyak dari penduduk kedua negara sudah masuk tahap middle class,” imbuhnya.

Di mata tokoh yang memenangkan pemilu Malaysia 9 Mei lalu, kalangan kelas menengah memiliki kemampuan membeli dan mendapatkan perdagangan dan perusahaan. Jikalau kedua negara ini gunakan market tersebut, suatu hari kita bisa bangun dengan perusahaan mudah karena Indonesia dan Malaysia bisa tes barang yang keluarkan di pasar domestik.

“Kalau barang yang kita buat ternyata laku di pasar domestik, maka kita boleh lah jual itu ke foreign market (pasar internasional),” jelas Mahathir.

Mahathir mengambil contoh pasar online yang sangat drastis. Pasar online ini bukan hanya di Malaysia dan Indonesia saja, tetapi juga sampai Timur Tengah, Korea dan Tiongkok. Tetapi ada permasalahan yang menjadi perhatian utama, yakni banyak usaha yang meningkatkan barang dari Amerika Serikat, sehingga sekarang lebih baik dari Eropa.

Bagi Mahathir, kalau mau belajar, Indonesia dan Malaysia bisa memproduksi jenis barang apapun. “Contoh Jepang, dulu kita tidak sangka Jepang akan produksi mobil bermutu. Bahkan kini di semua negara mobil buatan Jepang menguasai pasar dan menghancurkan industri Eropa dan Amerika,” papar Mahathir.

“Kita harus bisa sepert Jepang juga. Kita perlu sikap disiplin amanah dan bekerja keras. Kita harus punya sikap itu seperti halnya orang Jepang, Korea dan Tiongkok,” tuturnya.

Mobil nasional menjadi perhatian Mahathir. Malaysia sudah memiliki mobil nasional dan kualitasnya semakin membaik. Mahathir mengeluarkan usulan mengenai mobil produksi Indonesia dan Malaysia. Dia yakin, jika dilakukan sungguh-sungguh standar Indonesia dan Malaysia akan seperti Jepang.

Sementara Ketua IMBC Tanri Abeng mengakui selama 15 tahun organisasi berdiri, belum menunjukkan perkembangan berarti. Tanri melihat apa yang menjadi kekhwatiran Mahathir.

“Yang ingin saya tekankan beliau sangat concern dengan dominasi pengusaja luar. Prinsip ekonomi pasar besar menguntungkan negara kuat, kita harus bisa merebut pasar, kalau tidak bisa bersaing, bermain tanpa handicapped (istilah olahraga golf) pasti kalah,” ujar Tanri kepada wartawan.

“Kita harus melakukan langkah-langkah untuk membangun kekuatan bersama, prinsip benar kalau menguntungkan yang kuat padahal prinsip harus bernilai universal kita harus membangun kekuatan, sehingga kita bisa menguasai pasar, pemerintah harus tegas,” ucapnya.

Tanri mengingatkan kembali bahwa pemerintah harus mendorong pemangku ekonomi. “Kita perkuat dulu pasar kita, baru kita keluar,” tutur Tanri, mengulang pernyataan Mahathir.

Indonesia-Malaysia Business Council menjadi wadah para pengusaha Indonesia dan Malaysia. Pertemuan bersama Mahathir ini dihadiri oleh 22 undangan, termasuk Menteri Agraria dan Tata Ruang RI Sofyan Djalil, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Komisaris Utama BEI John A Prasetio serta Presiden Direktur Metro TV Suryopratomo.




(WAH)