Dewan Desa Pakistan Perintahkan Pemerkosaan terhadap Seorang Gadis

Arpan Rahman    •    Kamis, 27 Jul 2017 17:16 WIB
pemerkosaan
Dewan Desa Pakistan Perintahkan Pemerkosaan terhadap Seorang Gadis
Ilustrasi perkosaan. (Foto: Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Islamabad: Polisi Pakistan menahan 20 anggota dewan desa karena diduga memerintahkan pemerkosaan terhadap seorang gadis. 

Perintah itu sebagai hukuman balasan atas pemerkosaan yang dilakukan kakak korban.

Insiden terjadi awal bulan ini di Raja Ram di Muzaffarabad, pinggiran kota Multan. Korban berusia 17 tahun merupakan saudara perempuan dari seorang pria yang dicurigai memerkosa seorang gadis berusia 13 tahun bulan ini. 

Pelaku diyakini sebagai saudara dari korban pemerkosaan seorang gadis 13 tahun. 

Kepala polisi lokal, Ahsan Younus, mengatakan bahwa pencarian pria kedua sedang berlangsung. Dia mengatakan kasus ini sudah dilaporkan ke pusat hak-hak perempuan di Multan.

Jirga, atau dewan desa yang terdiri dari para tetua, menjadi sarana tradisional untuk menyelesaikan perselisihan di daerah pedesaan Pakistan. Sebagian warga pedesaan Pakistan tidak memercayai sistem pengadilan dan pengacara konvensional.

Namun pemerintah Pakistan menganggap dewan semacam itu ilegal.

Kejahatan atas Dasar Kehormatan

Allah Baksh, pejabat kepolisian setempat, menyebut bahwa anggota Jirga didekati seorang pria yang mengadu saudara perempuannya telah diperkosa oleh sepupu mereka.

Dewan kemudian memerintahkan penggugat untuk memperkosa adik perempuan terdakwa sebagai balasannya, kata Baksh. Tuduhan dikonfirmasi Rashid Taheem, petugas polisi yang memimpin penyelidikan.

"Kedua belah pihak telah mengajukan kasus perkosaan satu sama lain di kantor polisi setempat setelah kejadian yang terjadi pekan lalu," katanya seperti disitat The Guardian, Kamis 27 Juli 2017.

Kejahatan "atas dasar kehormatan" semacam itu masih umum terjadi di beberapa wilayah pedesaan Pakistan. Sebuah dewan desa pada 2002 memerintahkan pemerkosaan terhadap Mukhtar Mai, seorang gadis yang menuntut pemerkosanya ke pengadilan. 

Kasus tersebut menuai simpati internasional. Mai kemudian membuka sekolah bagi anak perempuan di wilayah pedesaan.

Ceritanya mengilhami sebuah opera, Thumbprint, yang dimainkan di New York pada 2014 dan ditayangkan perdana di Los Angeles bulan lalu.


(WIL)