Malacanang: Ada Taktik untuk Gulingkan Duterte

Sonya Michaella    •    Jumat, 16 Sep 2016 11:44 WIB
politik filipina
Malacanang: Ada Taktik untuk Gulingkan Duterte
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Manila: Berbagai tuduhan yang dilemparkan kepada Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dianggap sebagai taktik politik untuk menggulingkan presiden baru tersebut.

Senator Alan Peter Cayetano menuduh Partai Liberal (LP) menggunakan Edgar Matobato sebagai saksi untuk menggulingkan Duterte.

Matobato diajukan sebagai saksi oleh Senator Leila de Lima. Selama ini De Lima dikenal sebagai pengkritik keras dari Duterte.

Matobato bersaksi bahwa Duterte, yang kala itu masih menjabat sebagai Wali Kota Davao, sempat memerintahkan untuk melakukan pembunuhan di luar hukum kepada penjahat dan pengguna narkoba. Tak hanya itu, Duterte juga memerintahkan untuk mengebom masjid dan membunuh Muslim di Davao.

"Jika dia (Duterte) digulingkan, siapa yang akan menjadi presiden?" ujar Cayetano, seperti dikutip Inquirer, Jumat (16/9/2016).

"Jika di kota Davao saja ia bisa membawa kebijakan memusnahkan penjahat dan pengguna narkoba, tentu ia bisa membawa kebijakan tersebut di negara. Faktanya, lihat sekarang," tegasnya lagi.


Edgar Matobato memberikan kesaksian/AFP

Hingga saat ini, perang narkoba Duterte telah menewaskan hampir 3.000 orang pengguna dan pengedar narkoba di Filipina.

Beberapa diduga dibunuh oleh kelompok yang main hakim sendiri dan yang lain tewas dalam operasi polisi.

Sementara, Sekretaris Malacanang, Martin Andanar, mengatakan ia tidak bisa membayangkan Duterte mengeluarkan perintah untuk eksekusi penjahat, apalagi umat Muslim ketika masih menjadi Wali Kota Davao.

"Tidak, saya tidak berpikir ia mampu memberikan perintah seperti itu," ujarnya.

Andanar menegaskan, ketika Duterte akan menjadi presiden, semua data tentangnya telah diselidiki Komisi Hak Asasi Manusia dan tidak ada bukti terkait apa yang disaksikan Matobato.

Malacanang, kantor kepresidenan Filipina, menyerukan adanya objektivitas setelah Matobato bersaksi ketika ia masih menjadi anggota Davao Death Squad yang dipimpin Duterte kala itu.

Senada dengan Andanar, juru bicara Duterte, Ernesto Abella mengatakan tuduhan Matobato harus diselidiki terlebih dahulu.

"Kami harus menunggu penyelidikan yang tepat atas masalah ini," kata Abella.


(FJR)