Himpunan Mahasiswa Tuntut RI Putus Hubungan dengan Myanmar

Sonya Michaella    •    Kamis, 24 Nov 2016 14:47 WIB
konflik myanmar
Himpunan Mahasiswa Tuntut RI Putus Hubungan dengan Myanmar
HIMA PERSIS berunjuk rasa di depan Kedubes Myanmar, Jakarta, 24 November 2016. (Foto: MTVN/Sonya Michaella)

Metrotvnews.com, Jakarta: Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA PERSIS) menuntut pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan dan kejahatan terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Unjuk rasa terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Mahasiswa menuntut pemerintah Myanmar segera mengakhiri kekerasan terhadap Rohingya.

Berbeda dengan aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh Parade Bhineka Indonesia yang tenang, aksi unjuk rasa dari HIMA PERSIS ini cukup menarik perhatian para pengguna jalan di sekitar Kedubes Myanmar.

Pasalnya, sekitar 50 mahasiswa Islam meneriakkan Myanmar sebagai penyebab hilangnya ratusan etnis Rohingya dalam beberapa pekan terakhir.

"Kami menuntut Presiden RI Joko Widodo untuk mendesak Myanmar segera menghentikan aksi kejahatan terhadap Muslim Myanmar!" teriak salah satu mahasiswa.



Dengan menggebu-gebu, salah satu motor unjuk rasa menegaskan kekerasan, pembunuhan dan kejahatan adalah kegiatan yang biadab.

"HIMA PERSIS mengecam tindakan ini. Dunia internasional harus memberikan sanksi berat terhadap negara yang melakukan hal tersebut!" teriaknya lagi.

Baca: Rusuh Rakhine, Kemenlu Minta Penjelasan dari Dubes Myanmar

Mereka menuntut Indonesia memutus hubungan diplomatik dengan Myanmar, jika Myanmar tidak menghiraukan imbauan dunia internasional seperti ASEAN dan PBB.

"Indonesia harus memberikan solusi dalam masalah ini, sesuai dengan prinsip politik bebas aktif internasional. Pimpinan pusat HIMA PERSIS mengutuk keras genosida Myanmar," ucapnya lagi.

Mereka juga mendesak segera diberikannya sanksi politik dan ekonomi kepada Myanmar sesegera mungkin dan juga Indonesia segera mengusir duta besar Myanmar untuk Indonesia dari Jakarta.

Merujuk pada laporan Human Right Watch, melalui satelit jarak jauh, laporan tersebut menunjukkan fakta terjadinya pembakaran rumah dan bangunan di tiga desa di Rakhine.

Beberapa laporan lain menunjukkan adanya pemerkosaan dan perampasan harta benda di sepanjang wilayah Rakhine.

Terjunnya pasukan pemerintah Myanmar ke Rakhine dipicu serangkaian serangan terkoordinasi dan mematikan di pos perbatasan polisi sebulan lalu.


(WIL)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

1 day Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA