Tiongkok Bantah Tuduhan Turki Soal Muslim Uighur

Willy Haryono    •    Senin, 11 Feb 2019 18:05 WIB
turkitiongkokuighur
Tiongkok Bantah Tuduhan Turki Soal Muslim Uighur
Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, 3 Januari 2019. (Foto: Antara/M. IRFAN ILMIE)

Beijing: Tiongkok membantah sekaligus mengecam tuduhan Turki terkait perlakuan Negeri Tirai Bambu terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, termasuk soal rumor kematian seorang tokoh ternama dari etnis minoritas tersebut.

Sabtu kemarin, Kementerian Luar Negeri Turki mengkritik Tiongkok yang disebut menahan paksa Muslim Uighur di Xinjiang. Ankara juga menyebut seorang musisi ternama Uighur, Abdurehim Heyit, tewas saat menjalani vonis delapan tahun penjara di Tiongkok.

Namun satu hari setelahnya, Tiongkok merilis sebuah video bantahan. Isi video memperlihatkan seorang pria yang menyebut dirinya Heyit. Ia mengaku masih hidup dalam kondisi baik.

"Tiongkok telah merilis representasi (bukti) secara resmi terhadap Turki. Kami berharap sejumlah individu Turki terkait (tuduhan soal Uighur) dapat membedakan mana yang benar dan salah," tutur juru bicara Kemenlu Tiongkok Hua Chunying dalam konferensi pers rutin, seperti dikutip dari laman AFP, Senin 11 Februari 2019.

Hua menyebut tuduhan mengenai Uighur pada akhir pekan kemarin sebagai fitnah "keji," dan meminta Turki agar segera menarik "tudingan palsu" tersebut.

Baca: Turki Desak Tiongkok Tutup Kamp Detensi Uighur

"Saya melihat sendiri video (Heyit) kemarin. Dia bukan saja masih hidup, tapi sangat sehat," kata Hua.

Sementara itu sebuah tim panel ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan hampir satu juta Muslim Uighur dan etnis minoritas lainnya di Xinjiang telah dimasukkan Tiongkok ke kamp detensi. Tiongkok mengklarifikasi bahwa kamp semacam itu hanyalah fasilitas re-edukasi.

Beijing menyebut kamp yang dituduhkan itu adalah "pusat edukasi vokasi," yang didesain untuk membantu menghilangkan bibit-bibit terorisme di Xinjiang -- tempat tinggal lebih dari 10 juta Muslim Uighur.

Berbicara tahun lalu, salah satu petinggi Xinjiang, Shohrat Zakir, mengatakan bahwa "para peserta" di kamp Xinjiang mengaku bersyukur dapat diberi kesempatan untuk "merefleksikan kesalahan mereka."

Nasib Muslim Uighur merupakan isu hangat di Turki. Ini dikarenakan bahasa yang digunakan Uighur terdengar mirip bahasa Turki, dan kedua pihak juga memiliki kedekatan dalam hal budaya serta agama.


(WIL)